oleh

Dua Ekor Duyung Mati Terjerat Jaring Nelayan di Kepulauan Kei Maluku

-Berita-145 views

Ambon, LNN – Dua ekor ikan Duyung atau dugong ditemukan warga dalam kondisi mati di perairan sebelah barat Ur Pulau, Kepulauan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku. Ikan duyung atau dugong ini terjerat jaring Amus Rumheng, nelayan asal Ur Pulau saat memasang jaring benang dengan lebar mata jaring 3 inch pada Minggu (20/10/2019) pukul 16.00 WIT.

Saat Amus mengangkat jaringnya pada Senin (21/10/2019) pukul 06.00 WIT, tak sengaja terdapat dua ekor dugong yang terjerat dalam jaring tersebut. Ketika jaring sudah dinaikkan, dua ekor dugong tersebut telah mati dengan luka lecet di bagian tubuh dan ekornya.

Amus segera membawa dua ekor dugong ke pesisir Ur Pulau dan meminta bantuan Petrus Rahakauw untuk melaporkan kejadian pada instansi terkait agar peristiwa ini ditindaklanjuti. “Saya pikir hewan ini kalau masih hidup, sudah saya lepas. Tetapi sayangnya mereka sudah mati,” ucap Amus.

Laporan yang diterima langsung ditindaklanjuti oleh Kepala Resort KSDA Tual Justinus P. Yoppi Jamlean bersama Pangkalan PSDKP Tual, Dinas Perikanan Maluku Tenggara dan WWF-Indonesia untuk menuju lokasi kejadian. Menempuh perjalanan sekitar 1 jam tim evakuasi yang dipimpin Resort KSDA Tual tiba di Ur Pulau pukul 16.00 WIT.

Proses dimulai dengan pengambilan data morfometri dugong, interview kronologi kejadian kemudian proses pemusnahan bangkai. Diduga 2 individu satwa dugong tersebut merupakan induk betina dan anak jantan dengan ukuran masing-masing panjang moncong ke lekukan pada pangkal ekor 260 cm dan 207 cm. Setelah dilakukan pengambulan sample oleh instansi terkait, bangkai dugong ini dikuburkan warga.

Dua ekor ikan Duyung terjerat jaring nelayan dan ditemukan dalam kondisi mati. Foto: Istimewa

Andreas Hero Ohoiulun, Project Executant WWF Indonesia–Inner Banda Arc Subseascape mengungkapkan, perairan Kepulauan Kei adalah rumah yang kaya akan aneka ragam spesies laut yang indah dan kharismatik. Termasuk spesies laut yang langka dan dilindungi seperti penyu, paus, lumba-lumba, dugong/duyung dan lainnya.

Menurut Hero, keberadaan spesies langka dan dilindungi di Kepulauan Kei menjadi potensi untuk meningkatkan pengembangan sektor pariwisata bahari.

“Oleh karena itu perlu peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya keberadaan dan kelestarian terhadap spesies-spesies langka yang dilindungi. Ini memerlukan kerjasama dan kepedulian semua pihak baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama dan organisasi peduli lingkungan lainnya,” ujar Hero. (Erfan)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya