oleh

Kontroversi Ornamen Semana Santa: Pemerintah Daerah Perlu Belajar Sejarah

Denpasar, LN – Kontroversi keluarnya Ornamen Semana Santa Flores Timur, NTT yang dibawa ke Karangasem Bali saat Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) ke-7 16 Juni lalu, terus mendapat kecaman dari berbagai pihak. Salah satu Putra Flotim, Umar Ibnu Alkhatab yang juga Kepala Ombudsman RI Propinsi Bali meminta Pemerintah Daerah perlu belajar sejarah sehingga keputusan yang diambil tidak akan menimbulkan kontraproduktif.

“Pemda harus belajar sejarah lokal secara detil sehingga setiap keputusan yang diambil tidak menimbulkan kontroversi. Dalam kasus ornamen Semana Santa ini, kita melihat bahwa pemerintah daerah tidak memahami sejarah yang utuh,” ujar Umar saat ditemu di Denpasar Kamis (27/06/2019) siang.

Umar menilai, suasana kebatinan masyarakat Flores Timur yang saat ini bergulir di media sosial facebook Group Suara Flotim dan Berita Flotim Terkini, perlu dijelaskan oleh Pemerintah Daerah.

“Pemanfaatan ornament Semana Santa di Bali menuai polemik yang cukup luas di tengah masyarakat Flores Timur. Dan itu sangat mengganggu suasana kebatinan masyarakat Flotim secara keseluruhan” ujar Umar.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Flores Timur, Apolonia Corebima yang dikonfirmasi Lintasnusa.net melalui telepon dari Denpasar enggan menjelaskan kontorversi di berbagai media sosial. Nia mengaku, saat ini sedang diagendakan konferensi pers oleh Bupati untuk menjelaskan polemik ini.

“Aduh itu sudah ini ya, terlalu banyak polemik jadi saya tidak bisa beri lagi penjelasan. Semua kami sudah nanti di konferensi pers dengan Bupati saja ya. Belum dijadwalkan dari Humas tapi ya sudah terlalu banyak polemik di media” ujar Nia.

Saat ditanya terkait kewajiban Pemda menjelaskan informasi secara detil ke publik, Nia mengaku sudah menjelaskan dua kali dan tidak bersedia memberikan penjelasan kepada media ini.

“Saya sudah menjelaskan dua kali, jadi itu saya rasa sudah cukup. Nanti dek, semua sudah sepakat nanti di konferensi pers saja dengan pak Bupati” kata Nia.

Terkait ornament apa saja yang dibawa ke Bali, Nia menolak memberikan penjelasan.

“Ya seperti yang di media itu seperti sudah diberitakan ya, jadi mungkin minta maaf. Ini terlalu banyak polemik jadi saya tidak mau lagi memberi pendapat ya,” elak Nia.

Sementara itu, saat dikonfirmasi apakah ornamen yang dibawa ke Bali tersebut atas perintah Bupati, Nia langsung menutup telepon.

Sebelumnya, Kabupaten Flores Timur jadi peserta Festival dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) ke-7, yang dirangkai dengan gelaran HUT Kota Amlapura Kabupaten Karangasem Bali ke-379, yang bertempat di Taman Budaya Candra Bhuana, Amlapura, Karam Asem Bali Minggu (16/6/2019) lalu.

Kontingen Flores Timur diduga membawa serta Ornamen Semana Santa dalam festival dan Rakernas, yang kemudian menuai kecaman dari umat Katolik Flores Timur. Masyarakat Flores Timur di berbagai group facebook, mengecam keras sikap Pemda Flotim yang diduga membawa sejumlah ornament kudus dalam festival itu.

Ritual tahunan Kabupaten Flores Timur yang dikenal masyarakat luas, Prosesi Semana Santa merupakan sebuah prosesi agama sekaligus prosesi adat. Sejumlah suku yang berperan dalam prosesi Jumat Afung jelang perayaan merupakan suku – suku yang telah ditetapkan sejak jaman kerajaan. Suku – suku yang berperan masing; Suku Kabelen, Suku Lewai, Suku Raja Ama Koten (Diaz Viera Da Godinho), Suku Kea Aliandoe, Suku Ama Kelen De Rosary, Suku Maran, Suku Sau Diaz, Suku Riberu Da Gomes, Suku Lamuri, Suku Mulowato, Suku Lewerang dan suku Kapitan Jentera dan suku-suku lainnya. (Boy)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Lainnya