oleh

Kebun Indonesia Raya, Inspirasi Kemandirian Pangan di Tengah Pandemi Covid19

Karangasem, Lintasnusanews.com – Waktu Masih menunjukan pukul 09.00 Wita. Suasana di Kebun Indonesia Raya, Desa Seraya, Karangasem Bali pada Minggu (29/11/2020) sudah terlihat sibuk. Padahal tanah masih terasa basah usai diguyur hujan di pagi hari.

Sejumlah pria juga terlihat sibuk merapikan bibit, menata lahan untuk menanam, hingga mengulur selang air yang akan digunakan untuk menyiram tanaman.

Tiang-tiang bambu penyangga paranet terlihat berdiri tegak di antara bedeng-bedeng tanaman. Di bawah naungan paranet inilah bedeng-bedeng ditata rapi sebelum bibit ditanam. Lahan di kebun ini terdiri dari tiga bagian bertingkat.

Pada lahan bagian pertama dimanfaatkan untuk budidaya tanaman hidroponik. Pada bagian kedua dimanfaatkan untuk menanam sayur mayur dan buah-buahan. Sedangkan pada bagian ketiga untuk menanam pohon buah-buahan.

Kesibukan hari itu rupanya merupakan puncak persiapan sebelum menanam, setelah kurang lebih dua minggu berjibaku dengan persiapan lahan. Kebun Indonesia Raya digagas oleh Yoga Fitrana Cahyadi dan Aryo Dipokusumo.

Menurut Yoga, lahan seluas 21 are ini, ingin dikembangkan suatu model pertanian berbasis pemberdayaan warga, kemandirian pangan dan dan pertanian berkelanjutan.

“Kebun Indonesia Raya ini dibangun dengan cita-cita. Suatu saat dapat menjadi ruang belajar bagi warga dan mudah-mudahan ikut berperan memperkuat kemandirian pangan nasional,” kata Yoga.

Desa Seraya Karangasem dipilih Yoga dan Aryo, karena di masa lalu desa ini punya catatan penghasil buah-buahan. Letaknya persis di pesisir, tak jauh dari objek wisata Taman Ujung, Karangasem.

Seiring perjalanan waktu budaya bertani seakan kurang dilirik. Selain itu, letaknya yang tak jauh dari pesisir mengundang rasa penasaran untuk mengembangkan pertanian tanaman pangan.

“Desa ini dulunya punya tradisi kuat bertani, tapi makin hari lahan pertanian seolah ditinggalkan karena berkembangnya pariwisata,” kata Yoga.

Salah satu penggagas Kebun Indonesia Raya, Yoga Fitrana Cahyadi saat berada di lahannya Desa Seraya Karangasem Bali. Foto: Lintasnusanews.com/Ist
Salah satu penggagas Kebun Indonesia Raya, Yoga Fitrana Cahyadi saat berada di lahannya Desa Seraya Karangasem Bali. Foto: Lintasnusanews.com/Ist

Gagas Kebun Indonesia Raya, Berharap Jadi Pemicu Kembalinya Kultur Bertanam

Kebun Indonesia Raya diharapkan akan jadi pemicu untuk kembalinya kutur bertanam. Tidak muluk-muluk dulu tentunya. Cukuplah kalau bisa memenuhi kebutuhan dapur sendiri.

Jenis tanaman yang dipilih saat ini adalah jenis tanaman jangka pendek yang bisa memasok kebutuhan dapur. Misalnya kangkung, pockcoy, cabe, tomat, kacang-kacangan dan jenis sayur lain. Selain itu ada juga tanaman seperti melon, timun, delima dan jenis lainnya.

“Mayoritas warga di sini juga berprofesi sebagai nelayan, di musim-musim tertentu mereka tidak melaut karena cuaca, bertani bisa jadi pilihan lain. Setidak-tidaknya bisa menghemat pengeluaran,” kata Yoga.

Model yang dikembangkan Kebun Indonesia Raya yang letaknya di tepi pantai ini diharapkan bisa diduplikasi baik oleh warga sekitar maupun wilayah lain di luar Karangasem.

“Kebun Indonesia Raya memang masih jauh dari ideal. Tapi tidak ada salahnya dari kebun kecil ini kita membangun mimpi besar tentang kemandirian pangan nasional. Tugas manusia hanya menanam, masalah hasil, biarkan Tuhan yang akan menumbuhkan,” kata Yoga.

Sementara itu Aryo Dipokusumo menuturkan, proses pengembangan kebun dibagi dalam tiga fase. Yaitu fase pertama menyiapkan lahan dan menanam tanaman sayur, buah-buahan dan hidroponik. Fase kedua mengembangkan aquaponik, yakni budidaya ikan dipadukan dengan sayur-mayur.

“Pada fase kedua Kebun Indonesia Raya ingin memadukan budidaya ikan dan sayur mayur. Artinya di atas kolam ikan bisa ditanami sayuran,” kata Aryo.

Ditambahkan pria asal Jogja ini, pada fase tiga Kebun Indonesia Raya akan menambahkan sentuhan otomatisasi dan modernisasi. Pada fase ini proses menyiram tanaman menggunakan peralatan yang bisa digerakkan secara otomatis.

Instalasi pengairan (irigasi) mengikuti bentuk lahan, sehingga pada jam-jam tertentu air mengalir ke bedeng-bedeng tanaman melalui selang irigasi. Sedangkan modernisasi adalah sumber energi listrik bisa menggunakan sumber tenaga angin yang cukup melimpah dekat kebun.

“Pertanian atau petani kita perlu diberi sedikit sentuhan teknologi yang ramah lingkungan tentunya. Bisa dengan memanfatkan sumber tenaga angin yang tersedia sepanjang tahun,” ucap Aryo. (rob/boy)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya