oleh

Polres Sikka Selidiki Dugaan Pengancaman Satgas Covid19

Maumere, Lintasnusanews.com – Polres Sikka NTT menyelidiki dugaan pengancaman Satgas Covid19 yang terjadi di Dusun Eha Desa Wolomotong, Kecamatan Doreng pada Minggu (15/08/2021) lalu. Penyelidikan itu setelah adanya laporan dari Dandim 1603 Sikka melalui surat Nomor B/356/VIII/2021, tanggal 18 Agustus 2021.

Dalam surat itu tertuang perihal penyerangan terhadap Satgas Covid19 Sikka. Selanjutnya polisi menyelidiki dan dituangkan dalam laporan informasi nomor : LI/35/VIII/2021/Reskrim, Tanggal 20 Agustus 2021.

Kapolres Sikka AKBP Sajimin yang dikonfirmasi Kamis (02/09/2021) mengatakan, kasus ini sedang dalam tahap penyelidikan. Polisi tengah meminta keterangan dari sejumlah saksi.

“Lagi proses lidik mintai keterangan saksi. Untuk jelasnya bisa konfirmasi ke Kasat Reskrim atau Humasnya ya,” kata Sajimin melalui pesan singkat Whatsapp.

Sementara Kasat Reskrim Iptu Wahyu Agha Ari Septyan hingga saat ini belum berhasil dikonfirmasi terkait perkembangan kasus ini.

Peristiwa ini diduga berawal dari 4 orang warga Desa Wolomotong menolak dibawa ke Maumere untuk menjalani karantina terpusat setelah positif rapid test antigen.

Informasi yang Lintasnusanews.com, pada tanggal 05 Agustus lalu Satgas Covid19 Sikka gelar rapid test antigen terhadap 9 orang warga. Hal ini dilakukan setelah ibu hamil Maria Sabarita Sarti warga setempat meninggal dunia dan terkonfirmasi positif Covid19.

Sarti sebelumnya dirawat di Puskesmas Habibola, kemudian dirujuk ke RSU Dr. TC. Hillers Maumere karena menderita sesak nafas akibat asma dan gangguan jantung yang dialami sejak kecil. Namun setelah melahirkan anaknya, Sarti meninggal bersama anaknya.

Satgas Covid19 Sikka kemudian melakukan tracing contact yang kontak erat dengan pasien dan digelar rapid test antigen terhadap 9 warga pada 09 Agustus 2021.

Dugaan Pengancaman Terjadi saat Satgas Covid19 Sikka Jemput Pasien Isoman

Hasil rapid test antigen, seorang petugas Posyandu dan seorang kerabat yang membantu merawat pasien dinyatakan positif. Keduanya kemudian disarankan untuk isolasi mandiri di rumah, karena tidak mengalami sakit apapun.

Selanjutnya pada tanggal 14 Agustus 2020, petugas kembali melakukan rapid tes kepada 16 warga. Hasilnya, dua warga dinyatakan positif sehingga disarankan isolasi mandiri di rumah.

Namun sehari setelahnya, Satgas Covid19 dan aparat Kodim Sikka kembali ke Desa Wolomotong untuk menjemput pasien positif rapid antigen. Namun dihadang warga, karena menolak dibawa ke lokasi karantina terpusat di Maumere.

Menurut salah seorang warga bernama Petronela Pona, hasil test positif itu tidak disampaikan kepada yang bersangkutan. Warga kemudian bertanya kepada petugas dan mendesak petugas terbuka menyampaikan hal ini.

“Setelah selesai rapid, petugas tidak sampaikan langsung kepada warga yang bersangkutan. Karena itu, warga mulai gelisah dan mendesak supaya petugas terbuka siapa yang positif siapa yang negatif. Saat petugas sudah berada di dalam ambulance mau pulang, baru satu petugas petugas pakai teriak bilang yang positif itu nomor satu dan nomor tiga,” tutur Petronela.

Setelah kejadian tersebut, warga dibagikan obat oleh aparat desa namun karena khawatir sehingga warga menolak konsumsi obat tersebut. Menurut warga, obat tidak dibagikan langsung oleh petugas.

“Kami heran. Kenapa yang bagi obat itu bukan petugas medis tetapi aparat desa. Mungkin karena merasa khawatir, warga tidak minum obat yang dibagikan itu,” kata Petronela.

Sementara seorang warga lainnya mempertanyakan obat yang dibagikan aparat desa. Karena sejumlah warga yang negatif hasil rapid test antigen juga diberikan obat.

“Kami lain yang hasil rapid tes negatif juga dapat pembagian obat. Apalagi yang bagi obat ini aparat desa bukan petugas medis, jelas kami khawatir. Kalau petugas medis kan pasti bisa jelaskan obat ini untuk apa. Kami tolak minum obat,” ujar warga yang enggan menyebut namanya. (rel)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya