oleh

Branding Ethnowellness Nusantara, IWSPA Akan Latih 10 Ribu Terapis Bali

Denpasar, Lintasnusanews.comIndonesia Wellness Spa Assosiaton (IWSPA) deklarasi ethnowellness nusantara dan melatih 10.000 terapis di Bali tahun pada 2023 mendatang.. Program ini untuk membranding tradisi pengobatan dan perawatan kecantikan dengan ramuan tradisional dari rempah nusantara sebagai ikon wellness spa khas Indonesia.

“Target semua industri spa di nusantara menggalakkan ethnowellness di daerahnya masing masing untuk meningkatkan mutu spa di Indonesia. Kita berharap tradisi wellness dari semua kerajaan di Indonesia dikembangkan. Agar mengembalikan kebugaran masyarakat di daerah masing masing,” ungkap Ketua Umum IWSPA, Loudra Hutagalung, Jumat (07/10/2022).
Melalui deklarasi di Denpasar Bali yang berkolaborasi dengan Indonesia Wellness Master Association (IWMA) dan Wellness Health Entreprenuer Association (WHEA), diharapkan dapat membangkitkan kembali manfaat rempah kerajaan di nusantara. Bali dipilih menjadi tempat deklarasi ethnowellness nusantara, karena selain sebagai destinasi wisata dunia juga memiliki banyak kerajaan yang kaya ramuan tradisional.
Menurut Loudra, berdasarkan catatan IWSPA, total spa yang ada di Indonesia kurang lebih 3.500 dan 1.100 diantaranya beroperasi di Bali. Namun demikian, 30 persen dari jumlah itu berhenti beroperasi akibat pandemi Covid19.
“Data kami total 3.500 spa. Nah 1.100 spa di Bali. 30 persen mati tidak beroperasi, supaya bangkit kembali. Kalau kita bicara yoga itu dari India. Terus misalkan refleksi itu milik atau khas orang China. Oleh karena itu, ethnowellness nusantara ini kita declaire sebagai khas Indonesia,” ujar wanita yang juga pemilik Gaya Spa ini.

Ethnowellness Nusantara yang Digagas IWSPA Akan Jadi Kebanggaan Indonesia

Indonesia diyakini mampu dan siap bersaing dengan perawatan kecantikan lainnya di dunia. Oleh karena itu, pihaknya akan mendorong DPR RI melalui Kementerian Pariwisata agar menganggarkan pengembangan pengolahan rempah dan pelatihan terapis.

“Karena 10 ribu terapis, bantu kami untuk recruitment agar nantinya mereka boleh memakai pin ethnowellness nusantara sebagai tanda bersertifikat. ethnowellness Bali harus leading di Indonesia. Kalau Bali sudah leading untuk bisnis pariwisata,

satu spa memiliki karyawan 10-50 karyawan. Nah kalau dikalikan sekitar 8.000 sampai 10.000 terapis.
Loudra menuturkan, ketika datang ke Bali ia menemukan para pemijat pantai yang kurang profesional, karena menggunakan minyak yang kurang bagus. Selain itu, attitude terapis pantai juga seolah tidak menghargai tamu yang sedang dipijat.
“Tapi memang perlu edukasi dan juga dari sisi kebersihannya. Saya lihat ibu-ubu tukang pijat di pantai, pakai minyak yang kurang bagus saat memijat. Sedang pijat klien, tapi masih panggil turis yang lewat sehingga tidak menghargai kliennya,” tuturnya.
Lanjut Loudra, “Terapis harus story telling ke kliennya. Ini dagangan baru Indonesia. Spa ada bagian kecil dari wellness. Selain spa kami juga mengembangkan olah nafas Indonesia (ONI). Kita ingin menggunakan terapis usia 25-45 tahun dan mereka yang punya spending power,” katanya.
Loudra mengaku, pihaknya telah membangun komunikasi dengan tiga komunitas kerajaan di Bali. Hal ini sebagai langkah awal menggali khas rempah-rempah di masing-masing wilayah.
“Sudah mulai berkomunikasi dengan kerajaan Klungkung dan Peliatan Ubud. Mereka siap untuk kita berkolaborasi. Bahkan nanti kita akan gelar pelatihan dan seminar secara offline di Bali tapi bisa diikuti beberapa negara di dunia secara virtual,” jelasnya.
Sementara Kepala Dinas Pariwisata Bali, Tjok Bagus Pemayun mengapresiasi langkah sejumlah pihak yang peduli akan pariwisata Bali.
“Kami apresiasi program ini, karena meningkatkan sumber daya manusia di bidang spa ini. Apalagi Bali ini destinasi wisata dunia, jadi turis asing juga bisa mengenal apa saja yang jadi khas Indonesia,” katanya. (boy)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Lainnya