oleh

Moeldoko Harap Produksi Garam Indonesia Pakai Teknologi Modern

Jakarta, Lintasnusanews.com – Indonesia mengimpor garam dari luar negeri mencapai 2,75 juta ton per tahun, sehingga diperlukan teknologi modern dalam memproduksi garam dalam negeri.

Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko, menilai produksi garam Indonesia harus memanfaatkan teknologi modern. Sehingga produksi garam dalam negeri tidak lagi dipengaruhi kondisi cuaca.

“Jika cuaca tidak mendukung produksi garam akan turun. Persoalan ini harus dicarikan solusinya,” kata Moeldoko, di gedung Bina Graha Jakarta, Senin (11/12/2023).

Menurut Moeldoko, data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 mencatat, Indonesia mengimpor garam sebanyak 2,75 juta ton dengan nilai US$124,4 juta. Impor tersebut untuk menambal kekurangan produksi garam dalam negeri yang hanya mencapai 1,2 juta ton per tahun. Sementara kebutuhan garam mencapai 4,5 juta ton per tahun.

Moeldoko mengaku, pemanfaatan teknologi modern dalam produksi garam Indonesia membutuhkan biaya besar. Untuk itu, pemerintah mendorong investasi di bidang pergaraman agar produksi garam nasional meningkat. Hal ini juga menjadi amanah dari Peraturan Presiden (Perpres) No 126/2022 tentang Percepatan Pembangunan Pergaraman Nasional.

Mantan panglima TNI itu mengatakan, saat ini sudah ada beberapa perusahaan dari negara lain yang tertarik untuk berinvestasi di bidang pergaraman. Bahkan mereka juga menyatakan siap untuk bekerjasama dengan masyarakat dan mengintegrasikan produksinya dengan kantong-kantong produksi garam rakyat.

“Saya tegaskan kepada mereka nantinya tidak hanya produksi di sini (Indonesia), tapi juga memberdayakan kantong-kantong produksi garam rakyat dan mentransfer pengetahuan atau teknologinya,” tegasnya.

Moeldoko Terima Kunjungan Tim Perusahaan Garam Korea Selatan

Sebelumnya, pada Jumat minggu lalu, (08/12/2023), Moeldoko menerima kedatangan pimpinan Salt & Hemp. Sebuah perusahaan asal Korea Selatan yang bergerak di bidang produksi garam industri. Perusahaan yang berpusat di provinsi Gyeongsang Selatan ini menyatakan tertarik untuk berivestasi di bidang pergaraman di Indonesia.

Pada kesempatan itu, mereka memaparkan proses produksi garam dengan menggunakan teknologi nano filter, yakni menyedot air laut menggunakan pompa. Air laut tersebut kemudian dialirkan melalui membrane nano filter yang memiliki pori-pori berukuran sangat kecil.

“Membran nano filter ini hanya akan meloloskan molekul-molekul garam, sedangkan air dan kotoran lainnya akan tertahan,” jelas Kim Yong Deok, Chairman Salt & Hemp.

Kim mengklaim perusahaannya bisa memproduksi garam sebanyak 5,5 ton per hari. Dengan waktu produksi hanya satu jam dan lahan seluas 1650 meter persegi.

“Ini menjadi salah satu solusi untuk menjawab kebutuhan garam kita, dan tidak terpengaruh cuaca,” kata Moeldoko. (edo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Lainnya