oleh

Waspada Wabah ASF, Karantina Denpasar Periksa Sampah Kapal Pesiar

Denpasar, LNN – Petugas Karantina Pertanian Denpasar wilayah kerja Pelabuhan Benoa Bali, melakukan pengawasan terhadap Kedatangan Kapal Pesiar MV. Regatta yang berlayar dari Darwin menuju Exmouth, Australia. Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan sampah sisa olahan makanan daging Babi dimusnahkan dan tidak diberikan kepada para peternak Babi di Bali.

“Terhadap kapal yang bersandar ini, Pejabat Karantina Pertanian Denpasar melakukan pengawasan bagaimana cara awak kapal dalam menangani sampah sisa makanan yang ada di kapal pesiar. Disini Pejabat karantina Denpasar dapat melihat langsung penanganan sampah sisa makanan yang dilakukan di dalam kapal. Dengan menggunakan mesin penghancur sampah sisa makanan yang diproses setiap 4 – 6 hari sekali dimana hasil akhirnya menyerupai cairan, yang kemudian dibuang ke laut sejauh 12 mil dari daratan. sehingga bisa dipastikan sisa sampah makanan dari kapal pesiar tidak diturunkan ke daratan dan ini menjadi upaya dalam pencegahan ASF masuk ke Bali,” ungkap Humas Balai Karantina Pertanian Denpasar, Drh. Kadek Astari, Sabtu (20/12/2019) siang.

Baca: Waspada ASF, Karantina Pertanian Perketat Pemeriksaan Barang Penumpang

Kapal MV. Regata tiba di Pelabuhan Benoa Bali pada Sabtu (20/12/2019) pagi dengan membawa wisatawan asing. Kapal yang hendak ke Australia sebagai negara tujuan, bersandar terlebih dahulu di Pelabuhan Laut Benoa, Bali untuk kegiatan wisata.

Penyebaran Virus ASF (African Swine Fever) atau Demam Babi Afrika dapat ditularkan karena kurangnya pemanasan makanan pada daging babi dan olahannya serta sampah sisa makanan kapal laut maupun pesawat udara. Untuk mengantisipasi virus ASF, Petugas Karantina berkoordinasi dengan KSOP Benoa dan Bea Cukai Denpasar untuk melakukan pengawasan.

Baca: Cegah Flu Babi Afrika Masuk Bali, Ini yang Dilakukan Balai Karantina Denpasar

Sementara Kepala Balai Karantina Denpasar, Drh.  I Putu Terunanegara mengatakan, semua langkah pencegahan telah dilakukan mulai dari sosialisasi ke seluruh maskapai penerbangan asal negara wabah dan pemasangan baner larangan membawa makanan olahan dari daging Babi.

“Kapal pesiar sebenarnya jauh risikonya lebih tinggi karena memang dari beberapa kali pengambilan sample kami di lapangan ditemukan produk babi di kapal pesiar yang hasil olahan yang sudah menjadi sampah yang ini dibuang di TPA. Bayangkan itu sampah yang turun dari kapal lautpun kita kawal sampai ke TPA dan memastikan itu dibakar dan tidak sampai ke peternak babi. Inilah upaya yang kita lakukan dan kerjasama dengan pihak lain untuk tetap menjaga karena Bali ini memang tetap terbebas dari penyakit ASF,” kata Putu. (Boy) 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Lainnya