oleh

Gubernur NTT Janjikan 10 Mesin Pengering Kelor Untuk BumDes di Malaka

Kupang, LNN – Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat mengunjungi Badan Usaha Milik Desa (BumDes) M’Rian Desa Kufeu, Kecamatan Io Kufeu, Kabupaten Malaka, NTT. Saat meninjau BumDes penghasil kelor yang siap ekspor 40 ton pada bulan November mendatang, Laiskodat menjanjikan 10 mesin pengering kelor bagi BumDes di Kabupaten Malaka.

Dalam kunjungan kerja usai membuka Eltari Memorial Cup (ETMC) 2019 di Betun, Laiskodat menyampaikan harapannya terkait standar pembangunan yang ingin dicapai saat dirinya memimpin NTT.

“Kehadiran saya di NTT, bukan untuk bersaing dengan provinsi lain, tapi untuk bersaing dengan negara lain. Standar kita itu minimal sama dengan Australia dan New Zeland,” kata Viktor memotivasi warga untuk serius meningkatkan jumlah dan mutu marungga (kelor).

Laiskodat juga menyampaikan alasan mengapa Propinsi NTT kesulitan mengejar ketertinggalan. Gubernur meyakinkan, masyakarat NTT mampu bersaing asalkan, jelas arah perubahan yang ditapaki.

“Kehadiran pemimpin bukan untuk menyenangkan semua orang. Kehadiran pemimpin itu, untuk membuat orang bisa menatap masa depan,” ujar Laiskodat.

Dalam dialog yang dipimpin Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa NTT, Sinun Petrus Manuk, terungkap niat OJK untuk membangun BumDes Center di situ. Pertamina dan Bank NTT juga akan membangun Pertashop (lebih besar Pertamini), melayani keperluan Bahan Bakar Minyak warga desa.

“BumDes ini telah menjadi inspirasi. Akan dijadikan sebagai model untuk penataan BumDes lainnya,” ucap Sinun.

Menjawab pertanyaan Bupati Malaka, Viktor menyebutkan berbagai manfaat pohon ajaib itu (the miracle tree).

“Kita bersyukur, karena memiliki iklim dan tanah yang cocok untuk marungga. Karena begitu banyak manfaat tumbuhan ini, WHO menyebutnya sebagai pohon ajaib,” sebut Viktor.

Terhadap kekurangan mesin pengering, Gubernur berjanji memberikan bantuan 10 unit mesin baru, untuk meningkatkan volume produksi hingga 40 ton tepung perbulan, memenuhi kebutuhan pasar Jepang.

Papua New Gini juga menyampaikan keinginan mereka, untuk mengambil 100 ton tepung marungga organik. Memenuhi permintaan itu akan dimaksimalkan 85 hektar lahan marungga yang sudah dibudidayakan lima desa di Kecamatan Io Kufeu. Saat ini, KUB Maspete bersama BumDes M’rian baru bisa menghasilkan 10 ton marungga kering perbulannya.

“Saya lihat, pemeliharaan dan cara panen marungga lebih gampang dari pekerjaan bersawah. Mulai hari ini, saya akan beri perhatian kepada komoditi ekspor yang satu ini,” aku Bupati Malaka, dr.Stef Bria Seran yang belum fokus mengelola ‘emas hijau’ di wilayahnya.

Terhadap keluhan air, Stef berjanji untuk memperjuangkan dibangunnya lima embung, bersama Pemerintah Provinsi NTT. Tambahan bibit juga akan dibantu oleh Dinas Pertanian Provinsi NTT.

Sementara itu pimpinan BumDes, Nina menjelaskan proses pengolahan hingga produk tepung, sabun dan pelembab. Dalam keterangannya, disebut juga tantangan yang mereka hadapi.

“Saat ini, kami harus memperbaharui sertifikat organik lahan anggota. Kami juga membutuhkan biaya administrasi untuk mengubah status KUB menjadi PT dan tambahan modal untuk membeli daun basah petani,” sebut Nina yang memberi harga Rp.5000,- untuk setiap kilogram daun basah.

Ia juga menyampaikan ucapan terimakasihnya atas perhatian Gubernur NTT. Bersama Dinas PMD NTT, Dinas Perindag NTT, OJK, Perusahaan Daerah Flobamor, Bank NTT, Pertamina dan mitra lain, BumDes mereka semakin optimis berusaha.

Nampak hadir bersama warga lima desa dalam Kecamatan Io Kufeu itu, Kepala Dinas PMD NTT, Kepala Dinas Pertanian NTT, Kepala Dinas Perindag NTT, Kepala Bapelitbangda NTT, perwakilan OJK, PD. Flobamor, Bank NTT, camat dan para kepala desa. (Boy)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Lainnya