oleh

Optimalkan Layanan di Masa Pandemi, Asuransi Manulife Bayar Klaim Nasabah Rp 54,5 Miliar

Jakarta, Lintasnusanews.com – Asuransi Manulife Indonesia membayar klaim nasabah terkait Covid19 senilai Rp 54,5 miliar per November 2020. Hal ini sebagai bentuk komitemen dalam menyediakan solusi keuangan dengan membantu para nasabah sehingga semakin hari semakin baik.

“Klaim nasabah terkait Covid19 senilai Rp 54,5 miliar per November 2020. Covid19 memberikan tantangan tersendiri bagi Manulife Indonesia. Terutama bagaimana tetap terkoneksi dengan nasabah.  ungkap Humas PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia, Ruthania Martinelly dalam siaran tertulisnya, Minggu (29/11/2020).

Ruth menjelaskan, customer service tetap berupaya memberikan pelayanan nasabah dengan cara yang berbeda. Bahkan ketika tanpa harus bertatap muka, baik karyawan maupun tenaga pemasar berusaha memenuhi kebutuhan nasabah.

“Manulife Indonesia semakin menggalakkan digitalisasi dan memastikan para tenaga pemasar, untuk tetap memberikan layanan melalui non-face to face,” ujarnya.

Ruth mengaku, saran maupun kritik dari para nasabah merupakan salah satu faktor penting dalam menjalankan bisnis Perusahaan. Secara berkala, Asuransi Manulife Indonesia mengadakan pertemuan secara virtual dengan para nasabah dan mendengarkan keluhan-keluhan. Langkah ini menjadikan layanan perusahaan semakin hari semakin baik ke depannya.

“Survei Manulife Asia Care menunjukkan, 300 responden di Indonesia sejak pandemi beralih dari belanja secara offline ke online (65%). Menggunakan layanan online seperti pembayaran, belanja dan pengiriman makanan (71%). Dan khususnya menggunakan media online untuk mencari berita dan bersosialisasi (keduanya sebesar 69%),” urai Ruth.

Menurut Ruth, Covid19 telah mempercepat tren yang sudah ada terutama digitalisasi dalam gaya hidup. Karena itu, insurtech (insurance technology) bisa menjadi salah satu yang dimanfaatkan untuk peningkatkan inklusi dan bisnis asuransi.

“Sebagai upaya Manulife Indonesia memberikan layanan yang lebih optimal terutama di era pandemi, perusahaan memaksimalkan langkah-langkah efektif yang sudah ada. Seperti; memanfaatkan layanan non face to face untuk nasabah, memperluas aplikasi digital untuk nasabah agar memudahkan mereka dalam mengakses layanan kami, seperti submit klaim, cek polis melalui MiAccount,” paparnya.

Selanjutnya, bekerjasama dengan platform untuk memperluas jangkauan nasabah seperti dengan Halodoc. Nasabah korporasi Manulife dapat memanfaatkan layanan ini untuk cek kondisi kesehatan mereka di aplikasi tersebut.

Asuransi Manulife Indonesia Manfaatkan Teknologi untuk Mempermudah Layanan Nasabah

Presiden Direktur dan CEO Manulife Indonesia, Ryan Charland. Foto: Lintasnusanews.com/Ist
Presiden Direktur dan CEO Manulife Indonesia, Ryan Charland. Foto: Lintasnusanews.com/Ist

Sementara itu, Presiden Direktur dan CEO Manulife Indonesia, Ryan Charland berharap, lebih banyak lagi masyarakat Indonesia yang mulai sadar akan pentingnya asuransi. Saat ini Manulife melindungi lebih dari 2 juta nasabah di seluruh Indonesia.

“Manulife Indonesia akan terus membantu masyarakat membuat keputusan lebih mudah serta hidup lebih baik. Untuk itu Manulife Indonesia melihat kembali layanan-layanan yang diberikan. Kemudian memperbaruinya dengan lebih optimal memanfaatkan teknologi. Sehingga nasabah dan agen menjadi lebih mudah mencerna dan memahami,” jelas Ryan.

PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia didirikan pada tahun 1985. Manulife Indonesia merupakan bagian dari Manulife Financial Corporation, grup penyedia layanan keuangan dari Kanadayang beroperasi di Asia, Kanada dan Amerika Serikat.

Manulife Indonesia menawarkan beragam layanan keuangan termasuk asuransi jiwa, asuransi kecelakaan dan kesehatan, layanan investasi dan dana pensiun kepada konsumen individu maupun pelaku usaha di Indonesia. Hingga tahun 2020, Manulife Indonesia melayani 2 juta nasabah melalui jaringan lebih dari 9.000 karyawan dan agen profesional yang tersebar di 26 kantor pemasaran.

PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Survei Nasional Literasi Keuangan (SNLIK) 2019 yang dilakukan OJK menunjukkan, inklusi perasuransian sebesar 6,18 persen, jauh dibawah perbankan yang mencapai 73,88 persen. Inklusi asuransi yang rendah menunjukkan ruang untuk industri ini berkembang masih sangat besar. (tim/boy)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya