oleh

76 Tahun Warga Borablupur Bola Sikka NTT Kesulitan Akses Jalan

Maumere, Lintasnusanews.com – Selama 76 tahun sejak Indonesia merdeka, warga Borablupur Kecamatan Bola Kabupaten Sikka NTT kesulitan menjual komoditi pertanian. Hal ini disebabkan tidak adanya akses jalan yang memadai penghubung wilayah itu dengan desa dan kecamatan lain di Sikka.

Kepala Desa Persiapan Borablupur, Nolastus menuturkan, selama ini warga menjual hasil pertaniannya ke kota dengan cara memikul melintasi jalan tikus. Kondisi ini membuat perekonomian masyarakat setempat susah berkembang, sehingga pembanguan rumah pun mengalami kesulitan.

“Masyarakat bisa berubah kalau ruas jalan tidak ada. Bagaimana meningkatkan ekonomi keluarga kalau transportasinya tidak disiapkan,” ungkap Nolastus, Sabtu (21/08/2021).

Menurut Nolastus, hingga saat ini masih banyak rumah yang dihuni hingga empat kepala keluarga. Sehingga sejak dipercayakan menjadi Penjabat Kepala Desa Persiapan Borablupur, dirinya mengajak warga swadaya membuka akses jalan baru.

Baca juga: Ruas Jalan Wolonbetan Borablupur Memprihatinkan, Warga Swadaya Gotong-royong Buka Jalan

Nolastus mengaku, akibat kesulitan akses jalan dan transportasi ini membuat warga yang sakit kesulitan menjangkau puskesmas yang terletak di ibukota Kecamatan Bola. Kondisi yang lebih menyedihkan kata Nolastus,  jika ada ibu hamil harus melahirkan malam hari, terpaksa warga atau keluarga dekat harus bergotong royong untuk membawa ibu hamil dengan menggunakan tandu.

“Selain rumah yang tidak layak huni, juga yang sangat menyulitkan yakni pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Jika ada warga yang sakit maka ia harus berjalan sejauh 4 kilometer. Belum lagi dialami ibu hamil juga harus berjalan kaki sejauh 4 kilometer juga. Karena kesulitan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan,” tuturnya.

37 Unit Rumah Warga Borablupur Kecamatan Bola Tidak Layak Huni

Salah satu rumah warga di Desa Persiapan Borablupur, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka NTT yang menggunakan talang air dari bambu untuk menadah air hujan. Foto: Lintasnusanews.com/Karel Pandu
Salah satu rumah warga di Desa Persiapan Borablupur, Kecamatan Bola, Kabupaten Sikka NTT yang menggunakan talang air dari bambu untuk menadah air hujan. Foto: Lintasnusanews.com/Karel Pandu

Nolastus menguraikan, saat ini sebanyak  37 unit rumah warga setempat tidak layak huni. Sementara jumlah kepala keluarga (KK) di desa ini sebanyak 51 KK dengan jumlah jiwa 181 orang.

Dari 181 jiwa ini, dua diantaranya mengalami stunting yang hingga saat ini masih menerima  pemberian makanan tambahan (PMT) dari Puskesmas Bola.

“Dari 37 rumah yang tidak layak huni itu, juga rata-rata satu rumah dihuni oleh tiga hingga empat keluarga. Selain itu juga tidak dilengkapi MCK (fasilitas mandi cuci kakus).  Tidak ada MCK karena kesulitan mendapatkan air bersih. Untuk minum, warga harus membeli dari penjual air luar desa dengan harga Rp 5000/20 liter,” paparnya.

Hal senada disampaikan Kepala Dusun Gade Hermiana Hanse. Menurutnya, bahwa kesulitan akses transportasi ini bisa berakibat fatal bagi keselamatan nyawa warga yang sakit.

“Kami di sini sulit untuk mendapatkan pelayanan kesehatan ketika ada warga yang sakit. Apalagi sakit di malam hari. Dengan kondisi ruas jalan yang  seperti ini, warga harus bergotong royong memikul atau menghantar warga ke puskesmas,” ujarnya.

Oleh karena itu, Hermina berharap perhatian dari Pemerintah Kabupaten Sikka untuk warga yang terisolir seperti Borablupur. Termasuk rumah layak huni bagi masyarakat yang menghuni rumah lebih dari 1 kepala keluarga.

“Kami berharap pemerintah setempat untuk menata kembali rumah yang ditempati dua hingga empat keluarga. Agar bisa memiliki rumah masing-masing,”harap Hermiana.

Sementara Camat Bola, Akulinus  berjanji akan berusaha melaporkan kondisi ini ke pemerintah kabupaten. Akulinus juga berencana menertibkan rumah yang dihuni lebih dari satu kepala keluarga.

“Saya akan turun dan tertibkan sendiri. Ini semacam operasi untuk menertibkan rumah yang ditrempati 2 hingga empat keluarga. Mereka wajib membangun rumahnya sendiri-sendiri. Sehingga satu rumah satu keluarga,” ujar Akulinus. (rel)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya