oleh

Dukung UMKM di Masa Pandemi Covid19, JNE Tawarkan Sejumlah Solusi

Denpasar, Lintasnusanews.com – Pandemi Covid19 yang melanda tanah air sejak Maret 2020 lalu, berdampak pada penurunan penjualan produk usaha kecil mikro dan menengah (UMKM). Hal ini disebabkan karena masih banyak UMKM yang menjual hasil produksinya secara offline.

Kondisi ini dilirik PT Jalur Nugraha Ekakurir yang biasa dikenal dengan ekspedisi JNE, seiring penurunan angka transaksi selama pandemi Covid19. JNE kemudian meluncurkan sejumlah program untuk membantu UMKM untuk bangkit ditengah pandemi Covid19.

Kepala JNE Denpasar, I Nyoman Alit Septiniwati menuturkan, JNE berkolaborasi dengan Dinas Koperasi di sejumlah wilayah, menggelar pelatihan digital marketing dan teknik packaging. Menurutnya, masih banyak UMKM yang kesulitan memasarkan hasil produksinya secara digital.

Wanita yang akrab disapa Alit ini mengaku, model packaging produk UMKM juga harus menarik konsumen di era digital saat ini. Oleh karena itu, solusi memberikan pelatihan packaging atau kemasan bagi pelaku UMKM dan pelatihan digital marketing merupakan solusi.

“Beberapa program kita lakukan untuk menyemangati pelaku UMKM melalui kerjasama dengan PLUT (Pusat Layanan Usaha Terpadu) Dinas Koperasi di wilayah Denpasar, Bangli dan Negara. Ada dua program pelatihan, pertama itu teknik packaging (pengemasan) dan kedua digital marketing,” ungkap Alit, Sabtu (15/01/2022).

Pelatihan Digital Marketing JNE

Alit menjelaskan, para pelaku UMKM diajarkan cara mengemas hasil produksi, teknik pengambilan foto untuk dipajang secara digital dan teknik pemasaran digital. Menurutnya, jika hasil foto kemasan bagus, menarik minat konsumen untuk berbelanja.

“Nah disitulah kita berikan pelatihan digital marketing dan packaging. Setelah packaging bagus, kita berikan pelatihan digital marketing. Termasuk kualitas foto yang menarik saat dipajang di media sosial maupun market place.

Alit Optimis, dengan pelatihan ini dapat mendorong para pelaku UMKM untuk bersaing dalam pemasaran hasil produksi. Dengan demikian, transaksi digital meningkat yang akan meningkatkan jumlah transaksi pengiriman menggunakan jasa ekspedisi JNE yang menurun 15 persen jika dibanding pada masa sebelum pandemi. Namun demikian, Ia enggan menyebut data transaksi.

“Kalau dulu saat normal, transaksi pengiriman kita mencapai 30 persen. Kami tidak bisa beberkan data transaksi ya. Selama dua tahun pandemi ini, transaksi kami menurun 15 persen. Kami sadari, Bali ini kan perekonomian dari sektor pariwisata yang sekrang terpuruk dan daya beli masyarakat juga menurun. Tapi kita terus berupaya dengan berbagai solusi untuk membantu UMKM,” tuturnya.

Setelah kegiatan pelatihan, para pelaku UMKM juga diberikan kesempatan untuk berkonsultasi dengan konsultan JNE dalam hal digital marketing. Sehingga para pelaku UMKM didampingi secara gratis hingga bisa mandiri dalam pemasaran digital.

“JNE punya mentor (konsultan) digital marketing. Kami di Denpasar ada dua orang, bisa dihubungi setiap hari dengan batas maksimal jam 10 malam. Jadi satunya itu karyawan kami, sementara yang satu lagi kami pakai jasa mentor eksternal yang pakar di bidangnya,” imbuhnya.

JNE Loyalty Card Permudah Pelaku UMKM

Selain itu kata Alit, JNE juga menawarkan solusi lain pemasaran hasil produksi UMKM melalui program pesanan oleh-oleh nusantara yang dikenal dengan Pesona JNE. Program ini juga memberikan diskon biaya pengiriman hasil produksi UMKM, melalui member JNE Loyalty Card (JLC).

“Kalau costumer itu punya member JLC maka bisa ikut program diskon. Bisa juga menukarkan poin dari transaksi dengan hadiah menarik. Nah JLC ini juga berikan layanan pick up barang, sehingga ini memudahkan para pelaku UMKM,” jelasnya.

Namun jika UMKM yang tidak memiliki member JLC, ada solusi lain keringanan pembayaran bulanan dengan transaksi pengiriman minimal Rp500 ribu.

“Jadi bisa bayar bulanan juga, kalau pelaku UMKM transaksi bulanan nya minimal Rp500 ribu. Itu mereka otomatis jadi member corporate,” ujarnya.

Alit menambahkan, selama pelatihan pihaknya juga mendapat masukan dan saran dari para pelaku UMKM. Hal ini menjadi perhatian JNE dalam meningkatkan kualitas pelayanan kepada pelanggan dibanding ekspedisi pesaing.

“Mereka ingin barangnya sampai tepat waktu sesuai waktu estimasi pengiriman. Packaging kami juga diminta untuk jaga, sehingga barang kiriman tidak rusak,” katanya.

Tak hanya itu, para pelaku UMKM juga meminta JNE bertanggungjawab jika terjadi kerusakan barang ataupun keterlambatan waktu pengiriman. Selain itu, harga yang kompetitif dengan ekspedisi pesaing yang saat ini mulai bersaing di hati konsumen.

“Tanggungjawab kami sebagai ekspedisi harus ada saat terjadi komplain. Mereka juga minta agar menerapkan biaya pengiriman yang kompetitif. Nah hal itu akan jadi perhatian kami dalam melayani pelanggan, termasuk upaya mendorong UMKM untuk bangkit bersama kami,” pungkasnya. (*)

Penulis/Editor: Ambros Boli Berani

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Lainnya