oleh

Kejati Bali Kembali Bekuk Satu lagi DPO Pemalsuan Surat Villa di Kota Batam

Denpasar, Lintasnusanews.com – Sekian lama diburu usai ditetapkan sebagai DPO Pemalsuan Surat Villa, terpidana bernama Asral bin H. Muhamad Sholeh dibekuk tim tangkap buron (Tabur) Kejati Bali. Terpidana ditangkap di Perumahan Citra Indah, Kota Batam, Kepulauan Riau.

Kasi Penerangan Umum Kejati Bali A Luga Harlianto mengungkapkan, penangkapan pelaku diwarnai ketegangan karena Asral berusaha mengecoh petugas. Pria yang divonis 4 tahun 6 bulan penjara ini berusaha mengelabui petugas dengan pembelian tiket ke Tanjung Balai Karimun.

“Ia sempat mengecoh pemantauan dari Tim Tabur Kejaksaan Agung. Dengan memesan dua buah tiket kapal laut atas nama Asral untuk berangkat ke Tanjung Balai Karimun. Namun yang berangkat ke Karimun bukanlah dia. Melainkan dua orang adik keluarganya yang dalam manifes kapal menggunakan nama Asral,” kata Luga, Senin (11/1/2021) di Denpasar.

“Pada akhirnya, terpidana dapat ditemukan di sebuah rumah di Perumahan Citra Indah, Kota Batam, Minggu (10/1/2021),” sambungnya.

Setelah ditangkap di Kota Batam, terpidana dibawa ke Jakarta dan selanjutnya dibawa menuju Bali menggunakan pesawat. Setelah tiba di Bandara Ngurah Rai, Asral kemudian dibawa ke Rutan Gianyar dan langsung dijebloskan ke penjara.

Luga menjelaskan, asral merupakan terpidana dalam kasus pemalsuan surat dokumen Villa. Yang dapat membuat suatu hak, perikatan, atau pembebasan hutang. Diperuntukkan sebagai bukti sesuatu hal seolah-olah isinya benar pada proses jual beli Villa Bali Rich (PT. Bali Rich Mandiri) senilai Rp 38 miliar.

Kasus Pemalsuan Surat Villa Libatkan 6 Orang Terpidana

Secara keseluruhan ada 6 orang terpidana dalam perkara ini yakni Tri Endang Astuti Binti Solex Sutrisno istri dari Asral Bin H. Muhamad Sholeh, I Putu Adi Mahendra Putra, Hartono, Nugroho Prawiro Hartono dan Suryady.

Putu Adi Mahendra sudah terlebih dulu dieksekusi, menyusul Tri Endang dan Asral.

Di hari yang sama, Senin (11/1/2021) sekitar pukul 15.15 Wita, terpidana Hartono menyerahkan diri ke Kejaksaan Negeri Gianyar. Ia datang dengan didampingi kerabat, keluarga dan penasihat hukumnya.

“Sementara Nugroho Prawiro Hartono dan Suryady belum dapat dieksekusi dikarenakan tidak memenuhi tiga kali panggilan jaksa Kejari Gianyar untuk melaksanakan Putusan Mahkamah Agung. Ke 2 terpidana telah dijadikan Daftar Pencarian Orang sejak bulan Desember 2020,” terang Luga.

Pihaknya mengimbau kedua terpidana agar segera menyerahkan diri baik Ke Kejati Bali atau Kejari Gianyar atau Kejari terdekat dari lokasi masing-masing untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya karena tidak ada tempat yang nyaman bagi mereka yang telah dijadikan DPO.

“Kepada masyarakat yang mengetahui keberadaan mereka untuk memberikan informasi ke Kejati Bali atau Kejari Gianyar secara langsung atau melalui media sosial Kejati Bali atau Kejari Gianyar,” ucap Luga. (awd/boy)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya