oleh

Tipu Warga, Intel TNI Gadungan Divonis 2 Tahun Penjara

Denpasar, Lintasnusanews.com – Andre Crystanto (46), intel TNI gadungan yang menjadi terdakwa dalam kasus penipuan dengan modus mengaku sebagai perwira intel TNI divonis 2 tahun penjara.

Majelis hakim menjerat terdakwa dengan Pasal 378 KUHP Jo Pasal 64 Ayat (1) KUHP dalam dakwaan pertama. Serta Pasal 372 KUHP Jo Pasal 64 Ayat (1) KUHP dalam dakwaan kedua.

“Menjatuhkan pidana penjara 2 tahun dipotong masa penahanan terjadap terdakwa,” ungkap Hakim Ketua Putu Gde Novyartha dalam sidang di PN Denpasar, Selasa (30/3/2021).

Vonis yang dijatuhkan majelis hakim lebih ringan dari tuntutan JPU NP Widyaningsih yang sebelumnya menuntut terdakwa 3 tahun penjara.

Kasus penipuan oleh intel TNI gadungan yang berakhir di penjara ini berawal ketika terdakwa mendatangi warung kopi milik I Made Lila di Pantai Sindu, Sanur Bali, Minggu (13/12/2020).

Di sana terdakwa mengaku Intel TNI dan sedang bertugas mencari DPO TNI dalam kasus penggelapan mobil. Untuk meyakinkan korban, terdakwa juga menunjukkan gantungan kunci berlogo Polisi Militer/PM yang terpasang di tas selempangnya.

Selain itu, terdakwa kelahiran Yogyakarta ini juga menunjukkan masker loreng TNI yang sedang dikenakannya.

Mendengar pengakuan terdakwa, saksi I Made Lila menjadi percaya. Sehingga saksi menawarkan terdakwa untuk tinggal di rumah kosnya di Jalan Danau Buyan, Gang IV, No. 4E, Desa Sanur Kauh, Kota Denpasar.

Pada tanggal 15 Desember 2020, terdakwa berkata kepada saksi I Made Lila jika uang operasionalnya sudah habis. Kemudian butuh pinjaman uang untuk operasi penangkapan DPO.

“Nanti kalau uang saya yang Rp 25 miliar sudah masuk rekening, akan saya ganti 2 kali lipat,” ucap jaksa menirukan perkataan terdakwa.

Modus Pinjam Uang Korban, Intel TNI Gadungan Akhirnya Dipenjara

Terbujuk janji, Made Lila yang percaya kemudian menyerahkan uang Rp 16,5 juta yang diberi secara bertahap hingga 6 kali. Made Lila yang telah larut dengan tipu muslihat terdakwa juga mengenalkan terdakwa kepada saksi I Wayan Adi Sugiantara.

Di rumah saksi I Wayan Adi Sugiantara, terdakwa berkata bahwa ia adalah mantan anggota Paspampres di zaman Soeharto dan sekarang bertugas di bagian Intelijen PM.

“Tanggal 5 Januari 2021 ini peresmian pelantikan saya tugas di Bali,” ucap terdakwa.

Menurut para saksi, terdakwa selalu menggunakan masker berlogo TNI/Polri sambil menunjukkan atribut pasukan United Nation (PBB) dan gantungan kunci Polisi Militer (PM).

Kepada saksi I Wayan Adi Sugiantara, terdakwa menelpon seseorang dengan berkata “Kapten, besok kirimkan saya uang Rp 25 miliar,” ungkap terdakwa. Terdakwa juga menunjukkan kontak kapten kepada saksi I Wayan Adi Sugiantara.

Bahkan, pada hari yang sama sekitar pukul 23.00 Wita, terdakwa menelepon saksi I Wayan Adi Sugiantara. Kemudian mengatakan bahwa ia ingin meminjam uang. Kemudian berjanji akan mengembalikan pada Senin (21/12/2020), setelah uang Rp 25 miliar miliknya ditransfer oleh KAPTEN tersebut.

Saksi I Wayan Adi Sugiantara menjadi percaya dan meminjamkan uang Rp 13 juta kepada terdakwa dan diserahkan di rumahnya secara bertahap.

Belum juga uang miliknya dikembalikan, terdakwa kembali menelpon Wayan Adi Sugiantara untuk kembali meminjam uang Rp 2 juta. Merasa curiga, Wayan Adi Sugiantara kemudian melaporkan hal tersebut kepada pihak berwajib.

Dari hasil pemeriksaan terungkap jika terdakwa bukanlah seorang anggota TNI yang sedang melakukan operasi penangkapan DPO. Namun hanyalah seorang tukang pijit keliling. (awd)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya