oleh

Menduga Diperlakukan Diskriminatif, Tersangka Reklamasi Pantai Melasti Surati Kapolri

Denpasar, Lintasnusanews.com – Tersangka kasus reklamasi Pantai Melasti Bali, Direktur Utama PT Tebing Mas Estate, Made Sukalama menyurati Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Demi meminta perlindungan hukum dan memperjuangkan keadilan, Sukalama juga menyurati Menkopilhukam Mahfud MD serta Kapolda Bali, Irjen Pol Putu Jayan Danu Putra.

“Saya memohon perlindungan dan asistensi hukum terkait penanganan Perkara Laporan Polisi Nomor: LP/B/338/VI/2022/SPKT/POLDA BALI yang ditangani Subdit II Unit IV Ditreskrimum Polda Bali,” ungkapnya dalam siaran pers yang diterima awak media, Jumat (16/06/2023).

Dalam suratnya, salah satu dari 5 tersangka kasus reklamasi Pantai Melasti itu menduga adanya perlakukan diskriminatif oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Bali. Selain itu, Sukalama juga bersurat ke Komisi III DPR RI, Kompolnas RI, Irwasum Polri, Kadiv Propam Polri, Karo Wassidik Bareskrim, Kabid Propam Polda Bali juga Kabidkum Polda Bali.

Sukalama menuturkan, pada awal proses penyelidikan dan penyidikan dirinya, diduga ada keanehan dan ada fakta yang terpenggal. Dugaan ini karena hanya dirinya yang dijadikan terlapor. Padahal dia dan Kasim Gunawan selaku pemegang saham lainnya dan Hendryco bertemu Dirkrimum Polda Bali Kombes Pol Surawan.

“Ya, saya merasa ada tindakan diskriminatif yang perlu diluruskan,” ujar Sukalama selaku Direktur Utama PT Tebing Mas Estate periode 2020 – 2023.

Sukalama mengisahkan, pertemuan itu berlangsung di ruangan Kombespol Surawan, tanggal 8 Agustus 2022. Pada pertemuan tertutup itu, Hendryco meminta petunjuk kepada Kombespol Surawan, terkait laporan kasus reklamasi Pantai Melasti. Kombespol Surawan, mengatakan bahwa Made Sukalama akan dijadikan tersangka.

“Saat itu, saya berusaha menjelaskan duduk persoalannya,” tuturnya.

Sukalama: Reklamasi Pantai Melasti Diurug Made Kadiana

Sukalama juga menjelaskan bahwa pengurukan yang terjadi dilakukan oleh Gusti Made Kadiana. Lalu Kombes Pol Surawan menyampaikan kepadanya, apabila Tanah SHGB milik PT Tebing Mas Estate mau dijual. Dengan demikian, maka Laporan Polisi Nomor: LP/B/338/VI/2022/SPKT/POLDA BALI bisa dia selesaikan.

“Penyampaian pak Dir ini, didengar oleh Kasim Gunawan dan Hendryco,” tuturnya.

Made Sukalama juga menjelaskan bahwa selama proses penyidikan dan sebelum penetapan tersangka, Kasubdit II AKBP I Made Witaya beberapa kali menghubungi dirinya. Saat komunikasi itu, AKBP Witaya menyatakan hal senada dengan yang disampaikan oleh Kombes Pol Surawan. Intinya pemegang saham harus bersedia untuk melepaskan atau menjual tanah tersebut kepada pembeli.

Sukalam juga mengaku, usai pemeriksaan terhadap salah seorang pemegang saham, Kasubdit II AKBP I Made Witaya, berusaha bertemu empat mata dengan terperiksa. Namun permintaan tersebut selalu ditolak oleh pemegang saham tersebut.

“Ya hingga akhirnya kami ditetapkan menjadi tersangka. Saya akan memperjuangkan dan menindaklannjuti surat saya ini. Sampai kepada Pak Mahfud MD sebagai Menko Polhukam dan juga kepada Kadiv Propam Mabes Polri.” tegasnya.

Sukalama Pertanyakan Keanehan Proses Penyedilikan dan Penyidikan

Oleh karena itu, Sukalama mempertanyakan sejumlah keanehan selama proses penyelidikan dan penyidikan. Menurutnya, peristiwa ini berawal ketika tahun 2011  PT Tebing Mas Estate membeli tanah dari Gusti Made Kadiana dari kuasa Pura Merajan Gusti Lanang Ungasan.

Gusti Made Kadiana menjamin bahwa izin-izin di atas tanah akan dia urus. Dengan syarat, dia dijadikan sebagai Direktur Utama PT TME sejak tahun 2013 sampai 2020. Namun sampai saat ini, izin-izin yang dia janjikan tidak diselesaikan.

Namun ditengah perjalanan, dia melakukan pengurukan di pesisir pantai Melasti bersama Kelompok Nelayan pada tahun 2018. Inilah yang kemudian menjadi masalah dan dilaporkan oleh Satpol PP Pemda Badung.

“Sehingga secara faktual dialah yang melakukan pengurugan pesisir pantai Melasti tersebut pada tahun 2018. Dan saat itu saya belum menjadi Direktur Utama PT TME,” katanya.

Sukalama juga mengaku memiliki banyak bukti-bukti tentang Gusti Made Kadiana melakukan kegiatan di pesisir pantai Melasti. Kadiana sebagai perintis kelompok Nelayan Amerta Segara, Kelompok Budidaya Yoga Segara dan Kelompok Pengolahan dan Pemasaran Astiti Segara.

“Kadiana sebagai inisiator dan pelaksana pengurugan pesisir Pantai Melasti. Dia juga sebagai Direktur Utama PT Tebing Mas Estate dari tahun 2013 sampai dengan Februari 2020,” tutur Sukqlqma.

Sukalama mengatakan, dirinya diangkat sebagai Direktur Utama PT Tebing Mas Estate sejak bulan Februari 2020 sampai dengan sekarang. Namun yang melakukan pengurugan tersebut adalah CV Sepakat Nadhi Sejahtera yang dipimpin Gusti Made Kadiana.

“Untuk hal ini telah ada dua orang saksi Napoleon Putra dan Ferry Sitohang. Sampai dengan saat ini belum diperiksa dan dimintai keterangan,” imbuhnya.

Polda Bali Telah Tetapkan 5 Tersangka Kasus Reklamasi Pantai Melasti

Untuk diketahui, Polda Bali telah menetapkan lima orang tersangka diantaranya, Wayan Disel Astawa sebagai Bendesa Adat Ungasan. Selain itu, Gusti Made Kadiana selaku perintis kelompok nelayan, inisiator dan pelaksana pengurugan Pantai Melasti pada tahun 2018. Turut menjadi tersangka, Direktur Utama PT. Tebing Mas Estate dari tahun 2013 sampai dengan 2020. Made Sukalama sebagai Direktur Utama PT Tebing Mas Estate periode 2020 sampai 2023. Kasim Gunawan. Merupakan pemegang saham PT. Tebing Mas Estate. Terakhir Tjindropurnomo berstatus pemegang saham PT. Tebing Mas Estate.

Terkait dugaan diskriminasi, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Bali Kombespol Surawan membantah terkait indikasi diskriminasi. Menurutnya, penyelidikan dan penyidikan hingga penetapan tersangka, sudah sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).

“Ngak ada itu diskriminatif. Mereka lagi gugat perdata. Coba di cek ke PN. Penggugat adalah Kadiana,” katanya.

Hal senada disampaikan Kabid Humas Polda Bali, Kombespol Stefanus Satake Bayu Setianto. Satake mengaku, akan mengecek surat Sukalama.

“Tidak ada diskriminatif. Terkait surat permohonan perlindungan hukum, saya cek suratnya dulu ya,” ujarnya. (edo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Lainnya