oleh

Tiga WNA Terduga Korban Investasi Bodong Minta Atensi Lurah Ubud

Denpasar, Lintasnusanews.com – Tiga orang warga negara asing (WNA) terduga korban investasi bodong minta atensi Lurah Ubud, I Gusti Ngurah Nyoman Suastika pada Selasa, (19/12/2023). Kedatangan mereka masing-masing, Christopher Smith (USA), Hendrik Bressler (Jerman) dan Piotr Bracichowicz (USA) itu, didampingi tim kuasa hukum Kantor Malekat Hukum Law Firm.

Para WNA di Bali ini meminta pemerintah setempat turut mengawal kasus dugaan investasi bodong yang tengah bergulir di Polda Bali dan Pengadlan Negeri (PN) Gianyar. Ketiga WNA ini mewakili 34 investor lainnya yang telah berinvestasi di Clear World Properties, Clear World Resort, dan PT. Bumi Kristal Sumbawa (Golden Property).

Baca juga: Konjen Amerika Bali Janji Kawal Kasus Dugaan Investasi Bodong

Mereka mengadukan nasibnya ke Kelurahan Ubud, karena kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh Clear World dan Golden City berpusat di Clear Café Ubud. Menurut kuasa hukum Kantor Malekat Hukum Law and Firm, cafe tersebut merupakan milik tergugat Yansen Berry (PT. Bumi Kristal Sumbawa/Golden City).

Salah satu kuasa hukum dari Kantor Malekat Hukum Law and Firm, Bening Dian Pertiwi menjelaskan, 62 orang WNA dari berbagai negara mengalami kerugian di atas Rp20 miliar.

“Kami mengharapkan atensi dari Kelurahan Ubud. Supaya hal ini tidak menimpa masyarakat Ubud khususnya dan turis-turis yang datang berlibur ke Ubud pada umumnya,” ungkap Bening di Kantor Lurah Ubud, Selasa, (19/12/2023).

Baca juga: 13 WNA Terduga Korban Investasi Bodong Gugat Golden City Property

Para WNA melalui kuasa hukumnya berharap pimpinan Kelurahan Ubud dapat berkoordinasi dengan Prajuru Desa di Ubud. Hal ini terkait kegiatan pemasaran yang dinilai mencoreng kegiatan kepariwisataan di Ubud.

“Sepatutnya kita berharap dengan bantuan persuasif dan atensi dari pejabat setempat. Agar ini menjadi kasus pertama dan terakhir yang terjadi di Bali,” harap Bening.

Terduga Korban Investasi Bodong Minta Kasus Dugaan Penipuan Disosialisasikan

Dalam pertemuan itu, para WNA menyerahkan surat pemberitahuan dan permohonana atensi tersebut kepada Lurah Ubud. Dengan harapan, seluruh stakeholder di kawasan wisata Ubud Gianyar, dapat menyebarluaskan informasi dugaan penipuan ini.

“Harapan kami, dengan menyerahkan surat pemberitahuan dan permohonana atensi tersebut, supaya pencegahan kasus penipuan dengan brosur seperti ini tidak terulang lagi. Karena bisa mencoreng nama baik Bali. Sepatutnya kita berharap dengan bantuan persuasif dan atensi dari pejabat setempat,” pungkas Bening.

Sementara itu, kuasa hukum PT. Bumi Kristal Sumbawa (Golden City Property), Togar Situmorang mengatakan, pihaknya telah mengajukan permohonan kepada Polda Bali untuk menghentikan sementara proses laporan pidana. Permintaan ini karena para investor ini tengah menggugat klien nya di PN Gianyar.

“Terkait laporan Christopher di Polda Bali, saya sudah bersurat kepada kapolda, pak Dir dan kasubdit, minta ditunda dulu. Karena ada gugatan perdata mereka. Itu sesuai aturan hukum, serma (surat edaran Mahkamah Agung) yang mengatur. Apabila ada sengketa, ada keperdataan maka didahulukan perdata,” kata Togar.

Baca juga: Diduga Tertipu Investasi Bodong, Puluhan WNA di Bali Merugi Miliaran Rupiah

Togar menambahkan, surat panggilan terhadap klien nya Brett Sorensen dan YansenBarry tertanggal 12 Desember lalu, merupakan agenda klarifikasi. Namun saat klien nya tiba di Polda, penyidik mengatakan akan dikonfrontir. Sehingga klien nya keberatan dan meninggalkan Polda Bali.

“Waktu tanggal 12 Desember, klien kami sesuai panggilan itu bukan konfrontir. Tapi itu adalah konfirmasi. Kalau konfrontir, itu wajib kami pengacara diundang mendampingi. Dan nantinya digelar bersama-sama. Nah ini sangat kami sayangkan,” jelasnya.

Sementara terkait permintaan kuasa hukum PT. Bumi Kristal Sumbawa (Golden City Property) untuk menunda penyidikan pidana, Kabid Humas Polda Bali, Kombel Pol. Jansen Avitus Pandjaitan meminta semua pihak menghargai proses hukum yang tengah berjalan.

“Sedang berproses sesuai aturan hukum yang berlaku,” kata mantan Kapolresta Denpasar, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp. (edo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Lainnya