oleh

Ajukan Eksepsi, Sri Dharen Minta Keadilan untuk Dilshold Alimov

Denpasar, Lintasnusanews.com – Sudah jatuh tertimpa tangga pula, mungkin ini pepatah yang pas mewakili nasib Dilshold Alimov (33), warga negara Uzbekistan di Bali. Alimov terpaksa duduk di kursi persidangan atas dugaan melakukan pencurian sesuai Pasal yang dikenakan yakni Pasal 362 KUHP.

“Hari ini kami mengajukan eksepsi atau pembelaan atas dakwaan terhadap klien kami,” ungkap kuasa hukum Alimov, Sri Dharen saat ditemui di kantornya, Kamis (17/2/2022) di Denpasar.

Dharen menuturkan, kasus ini bermula ketika Dilshold Alimov mendirikan PT Peak Solutions Indonesia. Perusahaan tersebut bergerak di bidang konsultan visa, KITAS, akunting, BPJS, pajak serta pasport bagi orang asing yang datang ke Bali.

Lantaran orang asing,  Dilshold Alimov kemudian bekerjasama dengan warga negara Indonesia berinisial F, yang selanjutnya menjabat sebagai direktur. Sedangkan Dilshold Alimov bertindak selaku komisaris perusahaan.

Setelah beberapa tahun berjalan, sekitar bulan September 2021 terjadi konflik internal perusahaan antara Dilshold Alimov dengan F. Dilshold Alimove menduga adanya transaksi keuangan yang mencurigakan periode September 2020 – September 2021.

Sehingga Dilshold Alimove kemudian meminta pertanggungjawaban laporan keuangan kepada F selaku direktur perusahaan.

“Akan tetapi, F tidak memberikan tanggapan dan pertanggungjawaban laporan keuangan sebagaimana mestinya,” terang Sri Dharen.

Dilshold Alimove kemudian datang ke PT Peak Solutions Indonesia pada tanggal 29 Oktober 2021. Kedatangannya untuk bertemu dengan F, sebagaimana saran dari pihak kepolisian.

Setelah menunggu 3 jam, F tak kunjung datang dan bahkan tidak memberi jawaban saat dihubungi. Karena tanpa kepastian, Dilshold Alimove lalu mengambil dokumen di kantor tersebut untuk mengetahui laporan keuangan dan aktivitas perusahaan. Hal ini guna dicocokkan dengan dokumen yang dimilikinya.

Mirisnya, Alimove selaku pendiri perusahaan justru dilaporkan ke polisi dan dijadikan tersangka atas kasus dugaan pencurian. Padahal saat itu ada karyawan lain, dan dokumen yang diambil untuk diaudit juga ada di meja.

“Oleh karenanya, kami mohon majelis hakim untuk memberi keadilan yang seadil-adilnya kepada klien kita,” ucap Sri Dharen. (awd)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Lainnya