oleh

Kuasa Hukum Ni Luh Widiani Minta Jaksa Bebaskan Kliennya dari Penuntutan

Denpasar, Lintasnusanews.com – Tim penasihat hukum, terdakwa Ni Luh Widiani yang merupakan istri komisaris utama PT Jayakarta Balindo, almarhum Eddy Susila Suryadi, memohon jaksa penuntut umum (JPU) membebaskan klien nya dari penuntutan. Kuasa hukum menilai, perkara pidana yang menjerat Ni Luh Widiani tersebut diduga perkara “pesanan”, dari konspirasi untuk menguasai warisan dari almarhum Eddy Suryadi.

Keberatan tim kuasa hukum ini disampaikan dalam eksepsi atau nota keberatan atas dakwaan JPU, dalam sidang secara virtual, Kamis (10/03/2022). Dikatakan, harta peninggalan suami, semestinya menjadi hak waris terdakwa dan anak kandung hasil perkawinannya dengan Eddy Suryadi.

Penasihat hukum terdakwa Ni Luh Widiani, Denny Pandie mengatakan, keberatan diajukan karena ada kejanggalan dan ketidakjelasan surat dakwaan dari JPU Kejagung yang dibacakan jaksa IGN Wirayoga dari Kejari Badung. Menurut Pandie, pelapor Anis Rifai yang merupakan keluarga suami alm. Eddy Suryadi atas dugaan tindak pidana surat palsu yang dituduhkan kepada Ni Luh Widiani, tidak memiliki legal standing untuk melapor.

Surat palsu yang dimaksud jaksa dalam dakwaan adalah keputusan sirkuler PT. Jayakarta Balindo dan berita acara rapat umum luar biasa para pemegang saham PT. Jayakarta Balindo yang sudah didaftarkan ke Kementerian Hukum dan HAM RI. Akta Otentik itu dibuat notaris, I Wayan Darma Winata.

Menurut dakwaan, akibat perbuatan terdakwa, keluarga Alm Eddy Susila Suryadi mengalami kerugian sebesar Rp150 miliar.

Pandie menjelaskan, terdakwa diduga memalsukan Akta PT Jayakarta Balindo, maka harus mengacu pada Undang-undang No. 40 tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas, sehingga pemilik perseroan adalah pemegang saham.

“Bila ada dugaan tindak pidana tersebut, yang berhak melapor atas kerugian tersebut adalah pemegang saham atau kuasanya,” tegas Pandie.

Ni Luh Widiani Dilaporkan Keluarga Alm Suami Eddy Suryadi

Sementara penasihat hukum lainnya, Sudirno menguraikan, anggaran dasar PT Jayakarta Balindo No. 11 Tanggal 26 Februari 2015, Komposisinya, Eddy Susila Suryadi sebanyak 9.900 lembar saham (99 persen) dan Putu Antara Suryadi sebanyak 100 lembar saham atau 1 persen.

Para pemegang saham PT Jayakarta Balindo telah meninggal dunia. Oleh karena itu, secara hukum kepemilikan Saham PT Jayakarta Balindo beralih kepada ahli waris pemegang saham.

Sementara di dalam berkas perkara No : BP/73/IX/2021/Dittipideksus, tidak ada kuasa dari ahli waris alm. Putu Antara Suryadi. Namun pelapor kasus ini merupakan keluarga alm Eddy Suryadi yang tidak memiliki saham di PT Jayakarta Balindo.

Oleh karena itu, menurut Sudirno, klien nya Ni Luh Widiani harus dibebaskan atau dilepaskan dari penuntutan.

“Nebis in idem, Widiani tidak bisa menjalani proses penuntutan untuk kedua kalinya. Karena perkara dengan laporan polisi No : LP/B/0574/X/2020/Bareskrim tanggal 9 Oktober 2020 sudah diputus oleh Pengadilan Negeri Denpasar, dalam perkara No : 350/Pid.B/2021/PN.Dps,” tutur Sudirno.

Untuk diketahui, Anis Rifai melaporkan Ni Luh Widiani berdasarkan surat kuasa tanggal 8 Oktober 2020 terkait tindak pidana administasi kependudukan atau KTP yang tidak teregristrasi di Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Sedangkan perkara yang disidangkan saat ini adalah memberikan keterangan palsu terhadap akta otentik menyangkut RUPS.

“Legal standing surat dakwaan tidak ada. Harus ada LP baru. Tidak bisa menggunakan LP lama yakni, LP/B/0574/X/2020/Bareskrim tanggal 9 Oktober 2020. Karena sudah diputus dan telah memiliki kekutan hukum yang tetap,” tegas Pandie.

Tim penasihat hukum juga menyoroti legalitas perkawinan antara terdakwa dengan alm. Eddy Susila Suryadi yang menurut JPU, perkawinan tersebut telah di batalkan.

“Dakwaan Jaksa tidak berdasarkan hukum, premature dan tidak layak diajukan. Belum ada keputusan yang berkekuatan hukum tetap terkait pembatalan perkawinan tersebut. Masih dalam proses kasasi di Mahkamah Agung,” pungkas Pandie. (boy)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Lainnya