oleh

Penyu Belimbing Terjaring Nelayan Tradisional Solor

Pengirim: Elbony Hayon

Warga Solor Barat, Flores Timur – NTT

Larantuka, LN – Seekor Penyu Belimbing terjaring pukat nelayan tradisional Desa Ongalereng, Kecamatan Solor Barat Kabupaten Flores Timur, NTT Minggu (09/06/2019) dinihari. Penyu sepanjang 1,5 meter dengan lebar 1 meter ini akhirnya dilepas kembali ke laut, karena masyarakat sadar bahwa penyu merupakan hewan dilindungi.

“Kurang lebih 10 mil dari pinggir pantai, dia kena jam 12.00 malam saya sampai di pinggir pantai jam 03.00 subuh. Pukat saya rusak sekitar 1 pics jadi panjang 100 meter, dengan kedalaman 7 meter”, ujar Petrus Ratu Sogen saat ditemui di Pantai Ongalereng.

Pasca terjaring, nelayan tradisional warga Desa Ongalereng, Petrus Ratu Sogen mengevakuasinya menuju bibir pantai sejauh 10 mil jaraknya dengan menggunakan perahu tanpa mesin miliknya. Kerugian atas upaya penyelamatan ini ditaksir mencapai Rp.5 juta rupiah.

“Saya bawa ke sini karena harus membukanya dari jaring. Sy berusaha agar jaring saya tidak rusak lebih besar. Pagi harinya baru saya sampaikan ke Pokwasmas untuk proses pelepasan kembali ke laut,” tutur Petrus.

Dia mengatakan, nelayan tradisional sering mendapatkan jenis ikan yang dilindungi, namun resikonya jaring mereka harus rusak.

“Beberapa bulan sebelumnya ada nelayan tradisional yang mendapatkan ikan pari manta dan hingga saat ini pukatnya belum juga diganti. Kalau saya punya, robeknya juga cukup besar, pasti gantinya lama dan saya tidak bisa mencari lagi di laut,” akunya.

Dia mengaku, pasca terjaring, dirinya melihat karena jenis penyu ini dilindungi sehingga dia berupaya mengevakuasinya hingga ke darat.

“Saya pikir saat evakuasi jaring saya robeknya sedikit, padahal bertambah besar. Saya juga sempat putus asa untuk mengevakuasinya ke darat, karena saya pakai dayung bukan pakai mesin. Malahan karena saat hendak sampai darat, penyu ini merontak. Jadi terpaksa saya turun selam lagi untuk antar dia sampai di darat,” katanya.

Disinggung soal harapannya, lanjut Sogen, seharusnya pemerintah memikirkan timbal balik dari persoalan ini, karena jika tidak maka ruginya lebih banyak dirasakan oleh para nelayan tradisional.

“Karena dilindungi sehingga kami tidak bunuh. Mau lepas juga resiko pukat kami hancur. Lalu kalau tidak diganti, maka kami tidak bisa melaut lagi untuk beberapa waktu ke depan,” imbuhnya.

Dia berharap ada Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur tentang ganti rugi bagi para nelayan yang jaringnya terkena dampak ikan-ikan yang dilindungi saat melaut.

“Kami harap, DPRD kali mendatang ini, termasuk dengan Dinas Kelautan dan Perikanan bisa mendorong adanya regulasi ini, agar kami nelayan tradisional bisa terbantu,” usulnya.

Penyu belimbing ini akhirnya dilepas oleh Petrus pada pukul 07.00 Wita, disaksikan oleh Pokwasmas Desa Ongalereng serta perangkat desa setempat.

Perjuangan Sogen menyelamatkan Penyu jenis Belimbing adalah satu dari sebagian besar nelayan tradisional di pulau Solor. Nelayan berharap, pemerintah segera mengambil langkah bijak, untuk membantu nelayan tradisional saat jaringnya rusak terkena dampak terjaring ikan-ikan yang dilindungi. (***)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Lainnya