oleh

Diterjang Gelombang Pasang, Homestay Blue Ocean Sikka Rusak Berat

Maumere, Lintasnusanews.com – Hujan deras disertai gelombang pasang yang melanda Kabupaten Sikka NTT, mengakibatkan Homestay Blue Ocean dan Restoran di Desa Watuliwung Kecamatan Kangae rusak berat. Diduga peristiwa ini disebabkan pembangunan Break Water )pemecah gelombang) oleh PT Cipta Raya Indah (CRI) tidak menuttup seluruh kawasan perumahan.

“Pembangunan Break Water ini hanya dikerjakan 1060 m dari perencanaan sebelumnya sepanjang 1160 m. Pekerjaan ini dikurangi. Lantaran adanya kenaikan harga galian C sesuai Perda gubernur,” ungkap pengelola Homestay Blue Ocean, Ignasius Kassar saat Rabu (16/12/2020) petang.

Ignas mengaku, pernah meminta proyek pemecah gelombang ini harus melewati rumah warga, untuk mengantisipasi dampak bagi kawasan yang terdampak. Namun dalam perjalanan, proyek Break Water sekitar 100 meter tidak dilanjutkan pasca pergub harga galian C dinaikan 30% sehingga volume pekerjaan dikurangi.

“Ironisnya proyek ini sementara jalan pada bulan oktober, gubernur (NTT) keluarkan pergub untuk menaikan galian C,” ujarnya.

Proyek Break Water yang menelan anggaran senilai Rp 11, 6 miliar itu kini berdampak pada rumah warga dan Homestay Bule Ocean. Padahal keuntungan bagi Pemprov NTT pasca kenaikan harga galian C itu ditaksir senilai Rp 630 juta.

Ignas mengaku, kerusakan akibat terjangan gelombang pasang juga terjadi pada restoran Homestay Bule Ocean. Padahal restoran ini mempekerjakan karyawan dari masyarakat setempat, sehingga dikhawatirkan berdampak pada karyawan.

“Saya hanya berharap, semua bangunan yang hancur akibat diterjang gelombang dapat memberikan ganti rugi. Untuk SDM restoran, kami sudah melakukan bimbingan tehknis sehingga para karyawan benar benar profesional,” harapnya.

Ignas menambahkan, kehadiran Homestay Bule Ocean ikut meningkatkan pariwisata di Sikka, Oleh karena itu, pemda setempat harus mengganti rugi kerusakan yang dialaminya.

Ignas khawatir, karena perkiraan gelombang pasang akan terjadi hingga bulan februari tahun 2021. Kondisi ini akan terus meningkatkan jumlah kerusakan rumah warga yang tidak dilindungi oleh tembok pemecah gelombang. (rel/boy)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya