oleh

Memahami Habitat & Sistem Perkembangbiakan Hewan Langka Komodo

Labuan Bajo, Lintasnusanews.com – Satwa langka komodo atau varanus komodoensis merupakan hewan endemik purba yang habitat hewan liar ini bisa ditemukan di Flores NTT. Sistem perkembangbiakan komodo dengan cara bertelur dan dieramkan selama 8-9 bulan dalam tanah yang digali induknya.

Melansir Encylopaedia Britannica (2015), komodo terdapat di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Gili Motang, dan Gili Dasami, Flores NTT. Dalam sebuah studi, komodo bukannya tidak bisa menjelajah daerah lain, tetapi mereka tidak ingin melakukannya.

Setelah melakukan pengamatan selama satu dekade, ditemukan bahwa komodo tidak pernah meninggalkan tanah kelahirannya sepanjang hidup. Para peneliti pun menyebut komodo sebagai kelompok homebody atau “anak rumahan” yang sesungguhnya.

Lansiran Antara, 16 Juli 2019, Balai Taman Nasional Komodo melaporkan jumlah komodo di TNK kurang lebih 2.800 ekor. Cara berkembangbiak satwa langka ini dengan cara bertelur. Induk komodo menggali lubang pada musim bertelur bulan Agustus hingga September.

Namun induk komodo tidak meninggalkan telurnya, karena khawatir pemangsa liar seperti babi hutan dan bahkan komodo lainnya. Oleh karena itu, biasanya induknya menggali lubang lain dan bersembunyi di sekitar lokasi bertelur untuk mengawasi telurnya.

Masa eraman telur komodo terbilang mirip manusia, karena kisaran waktu menetasnya mencapai delapan hingga sembilan bulan. Setelah telur menetap, induknya baru bisa meninggalkan anaknya dan kembali ke habitatnya. Hal ini seperti terlihat di Pulau Rinca, kawasan bertelurnya komodo biasanya mencariu suhu yang lembab dengan kisaran 25-35 derajat celsius.

UNESCO Kunjungi Labuan Bajo Lihat Habitat Komodo

Dilansir BBC News, organisasi keilmuan pendidikan dan kebudayaan UNESCO belum lama ini mengunjungi Labuan Bajo, setelah aksi protes masyarakat setempat terkait proyek pembangunan di dalam kawasan Taman Nasional Komodo itu. Hal ini diungkapkan Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Itje Chodidjah pada Minggu (06/03/2022).

Menurut Itje, selain melihat kondisi wilayah konservasi itu, UNESCO juga menemui beberapa pihak yang selama ini memprotes proyek pembangunan wisata di wilayah konservasi itu.

Para pegiat mengharapkan kunjungan UNESCO itu dapat berdampak kepada penyelamatan habitat komodo dari ancaman proyek pembangunan itu.

“Ada berita-berita yang membuat UNESCO perlu memastikan bahwa apa yang dilaporkan oleh Indonesia bahwa kita tidak mengganggu wilayah yang menjadi warisan dunia, itu terkonfirmasi. Oleh apapun, bukan hanya pengembangan pariwisata,” ungkapnya.

Pada Juli tahun lalu, Komite Warisan Dunia UNESCO meminta pemerintah Indonesia menghentikan sementara semua proyek infrastruktur di dalam dan sekitar Taman Nasional Komodo.

Alasannya, proyek itu berpotensi berdampak pada nilai universal luar biasa atau Outstanding Universal Value (OUV). Salah satu kriteria penilaian UNESCO untuk penetapan warisan dunia.

UNESCO juga meminta Indonesia menyerahkan revisi amdal proyek itu yang selanjutnya akan ditinjau kembali oleh IUCN.

Pemerintah Indonesia diminta memberikan informasi rinci dari rencana induk pariwisata terpadu yang menunjukkan bagaimana properti OUV akan dilindungi.

Jakarta juga diminta menunjukkan bagaimana rencana mewujudkan pariwisata massal itu dapat memastikan perlindungan OUV.

Setelah surat peringatan dari UNESCO itu diterbitkan, Itje mengatakan sudah banyak dialog yang terjadi antara UNESCO dan pemerintah Indonesia.

“Sudah banyak dialognya. Indonesia meminta mereka, mengundang mereka untuk hadir, untuk menyaksikan” kata Itje.

Dari kacamatanya, Itje menilai proyek pembangunan wisata di kawasan Taman Nasional Komodo sudah “aman”.

“Yang membuat mereka mengiyakan ketika kami undang karena ada berita-berita dari media juga. Yang tidak semuanya mewakili secara keseluruhan apa yang terjadi di Pulau Komodo,” ujar Itje.

Proyek Pembangunan di Kawasan Taman Nasional Membahayakan Habitat Komod0

Sementara peneliti Venan Haryanto dari Lembaga advokasi berbasis penelitian Sunspirit for Justice and Peace mengatakan, pihaknya merupakan salah satu organisasi yang diundang untuk memaparkan kondisi Taman Nasional Komodo.

“September 2020 yang lalu kan kita pernah mengirim surat ke sana. Kemarin kita coba mempertegas kembali di depan mereka,” kata Venan.

Venan mengatakan, pertemuan tersebut sebagai respons dari isu-isu terkini di Taman Nasional Komodo yang pernah disuarakan warga. Selain itu, suara dari beberapa organisasi peduli lingkungan melalui surat-surat kepada UNESCO.

Di depan UNESCO dan IUCN, Venan yang juga mengaku membawa suara masyarakat yang menolak proyek pembangunan pariwisata di Kawasan Taman Nasional Komodo.

“Ini bicara soal satu-satunya natural habitat satwa komodo yang tersisa di dunia. Karena itu kehadiran perusahaan yang membangun infrastruktur yang besar dan luas, ini berbahaya,” kata Venan.

“Walaupun mereka bilang bahwa kami membangun di atas zona pemanfaatan. Tidak bisa pakai argumentasi itu.”

Venan menilai, pembangunan proyek itu membahayakan habitat komodo yang terancam punah, karena satwa langka ini menjadi tidak nyaman.

“Bagaimana ceritanya kalau kita ke dalam, kalau wisatawan ke dalam masuk ke sana sudah ada gedung-gedung yang banyak. Tolong jangan rusak kealamiahan dengan membangun itu,” ujar Venan.

Sejauh ini, ada tiga perusahaan yang mengantongi izin konsesi di Taman Nasional Komodo yang bakal mendirikan usaha dan menyediakan jasa di kawasan seluas belasan hingga ratusan hektare di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, dan Pulau Tatawa. (boy)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Lainnya