oleh

Pantai Lewotobi Jadi Kawasan Konservasi Penyu

Larantuka, LNN – Pantai Lewotobi yang terletak di Desa Birawan, Kecamatan Ile Bura, Kabupaten Flores Timur, NTT, kini menjadi kawasan konservasi penyu. Warga setempat berharap, dengan meningkatnya kesadaran masyarakat menjaga hewan dilindungi dan biota laut ini, kawasan ini bisa mendapat perhatian serius dari pemerintah setempat.

“Saya kira tepat, kalau Pantai Blele Wutun, Wai Bele, Nara dan Waiotan, harus mendapat perhatian serius untuk dikembangkan menjadi Kawasan Konservasi penyu yang punya daya tarik wisata. Lihat saja, kawasan Pantai Blele Wutun ini sangat luas dan lembut pasirnya. Selama ini penyu sering datang bertelur pada malam hari atau saat dini hari,”ujar Ketua Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokwasmas) Desa Birawan, Kanisius Uran, didampingi Kepala Seksi Pembangunan Desa Birawan, Wilibrodus Suban Aran, Kamis, 25/07/2019) petang.

Kanis menjelaskan, warga setempat maupun Camat Ile Bura sering menemukan telur penyu di kawasan ini. Warga juga selalu mengembalikan penyu ke laut, karena masyarakat setempat telah diedukasi terkait hewan dilindungi.

“Setelah lepas 49 anak penyu di Pantai Nara beberapa hari lalu, ditemukan lagi 145 butir telur penyu di Pantai Blele Wutun oleh Camat Ile Bura, Jack Ara Kian saat lari pagi di pantai. Masih ada 3 tempat lagi di ujung dekat bebatuan yaitu Rogan, yang sudah menetas dan diperkirakan sudah kembali ke laut,” ungkap pria yang akrab disapa Anis Uran itu.

Sementara Camat Ile Bura, Jack Ara Kian saat dikonfirmasi di kediamannnya, membenarkannya dan mengaku warga setempat sudah paham akan konservasi hewan dilindungi.

“Betul, saya kebetulan lari pagi di Pantai Blele Wutun, Kamis, 25 Juli 2019 dan menemukan jejak kakinya penyu yang masih baru. Saya lalu ikuti terus dan temukan tumpukan pasir yang diduga kuat tempatnya bertelur. Saya sampaikan ke Suban Aran agar bisa diselamatkan telur penyu itu dan syukurlah bahwa telur penyu itu bisa langsung ditemukan sebanyak 145 butir,” ujar Jack, Jumat (26/07/2019) petang.

Camat berharap kawasan pantai sepanjang Desa Birawan, maupun desa lain seperti Riangbura, Nurabelen bisa dikembangkan sebagai kawasan konservasi penyu.

“Mungkin, dengan dukungan dana desa, mulai dibuat bak penangkaran penyu dan dipagari kawat berduri supaya aman. Lalu, bisa jadi salah satu destinasi wisata. Saat orang masuk untuk nonton kan bisa bayar karcis, sehingga memberikan tambahan pendapatan desa,” harapnya.

Jack juga menjelaskan, anak penyu harus masuk penangkaran hingga usia ke 45 hari, sebelum dilepas kembali ke laut. Hal ini untuk menyelamatkan dan menambah populasi penyu.

Pendapat Camat Ile Bura, sejalan dengan gagasan Kepala Desa Birawan, Tarsisius Buto Muda yang berniat mengembangkan Pantai Blele Wutun hingga Waiotan menjadi kawasan yang terintegrasi antara konservasi terumbu karang dan penyu.

“Birawan satu-satunya desa di Flores Timur yang sudah memiliki Peraturan Desa (Perdes) Konservasi Terumbu Karang dan sudah melakukan kegiatan konservasinya. Sejumlah instansi terkait termasuk Kementrian Kelautan dan Perikanan juga sudah datang lihat,” ungkap Tarsis.

Selain mengembangkan kawasan konservasi penyu, Desa Birawan juga telah memasang 27 meja transplantasi di dasar laut yang kini sudah mulai tumbuh dengan bak. Langkah ini merupakan hasil kerjasama dengan LSM Missol Baseftim, yang didanai dengan dana desa tahun 2017.

Desa Birawan telah 6 kali mengembalikan penyu hasil temuan warga ke laut. Terkahir penyu ditemukan warga pada, Kamis (25/07/2019 dan dikembalikan ke habitatnya karena masyarakat sadar akan edukasi hewan dilindungi. Namun demikian, warga berharap Pemerintah Kabupaten Flores Timur melirik potensi dan kesadaran masyarakat ini untuk dijadikan satu destinasi wisata baru dengan tawaran menarik yakni konservasi penyu. (Ola)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Lainnya