oleh

Festival Lamaholot Bangkitkan Budaya dan Tradisi

Larantuka, LNN – Suku Lamaholot merupakan warga Flores daratan, Pulau Adonara dan Pulau Lembata, yang kaya akan ragam budaya dan tradisi sejak nenek moyang. Nama suku lamaholot pun digunakan sebagai nama Festival di Kabupaten Flores Timur yang digelar di wilayah Kecamatan Lewolema dan Kiwangona Pulau Adonara pada 11 hingga 15 September 2019.

Festival ini digelar pertama kalinya di Kabupaten Flores Timur, sebagai upaya menggali dan membangkitkan kembali tradisi dan budaya masyarakat setempat. Selain itu, Festival Lamaholot juga dijadikan ajang promosi wisata budaya masyakarat yang menghuni ujung timur pulau Flores, NTT.

Sejumlah atraksi budaya dan tarian adat pun dpentaskan dalam Festival pedana ini, termasuk permainan tradisional anak-anak suku lamaholot yang hampir terlupakan seiring perkembangan teknologi yang memanjakan masyarakat dengan gadget. Sejumlah atraksi tarian adat seperti Tarian Sason, tarian Petudun, tarian Gong Pito, atraksi budaya bayo sepin sira dan permainan tradisional Kote digelar pada Festival perdana ini.

Salah satu tarian khas masyarakat suku Lamaholot yakni Leo’on tenada yang digelar pada hari kedua Festival Lamaholot, diperankan oleh kaum lelaki. Ratusan pemanah dari Desa Painapang menari dengan busur dan anak panah diiringi tabuhan gong dan gendang serta lengkingan teriakan para pemanah.

Pasukan pemanah masuk ke arena Le’on Tenada mengelilingi sebuah tiang bamboo yang ujungnya dipasang sebuah kayu berwarna putih sebagai sasaran panahan. Debu yang berterbangan akibat hentakan kaki ratusan pemanah, tak menyurutkan niat mereka untuk berlomba ketangkasan.

Satu persatu anak panah melejit bagai peluru, disertai teriakan warga yang menonton saat anak panah tersebut tak mengenai sasaran dan menancap di gundukan tanah lapangan Desa Bantala. Sorak kegirangan memecah setelah anak panah milik salah satu penari, Yosep Tana Ruron menancap dan ujungnya bergerak melambai-lambai setelah mengenai sasaran.

Atraksi ini pun memancing niat Bupati Flores Timur, Anton Gege Hadjon, Wakil Bupati, Agustinus Payong Boli dan Sekda Flores Timur,Paulus Igo Geroda untuk turun ke arena. Belum sempat ketiga pejabat daerah ini memanah, anak panah milik penari Alberth Boli Ruron menancap tepat di sasaran disambut sorak sorai ratusan pemanah.

“Kami merasa sangat bangga dengan acara ini. Karena ini sebelumnya dilaksanakan dengan ritual adat. Dan kami yang telah berhasil memenangkannya pertanda bahwa Lera Wulan Tana Ekan, masih tetap memlihara, melindungi dan memberkati umatNya,” ungkap peserta yang panahannya mengenai sasaran, Yosep Tana Ruron, Kamis (12/09/2019).

Selain atraksi budaya Le’on Tenada, salah satu warisan budaya suku Lamaholot yakni Kote atau biasa dikenal dengan nama Gasing, juga ditampilkan dalam hari kedua Festival. Atraksi Kote diperankan oleh para siswa Sekolah Dasar se-kecamatan Lewolema.

Salah seorang guru yang mengantarkan para siswa asal Desa Ile Padung untuk mengikuti festival, Petrus Pati Aran, menuturkan, permainan Kote merupakan jenis permaiman yang dimainkan oleh anak-anak sejak jaman nenek moyang mereka.

“Permainan ini namanya Kote. Kote ini suda ada sejak dulu yang dimainkan oleh anak-anak sebagai hiburan. Hingga sekarang permainan jenis ini masih rigemari oleh anak-anak,” tutur Petrus Aran.

Petrus menjelaskan, Kote merupakan sebuah benda yang dibentuk dari bahan dasar kayu. Setelah dibentuk menjadi Kote, untuk bisa diputar para peserta menggunakan gulungan tali dari berbagai bahan dasar tradisional.

“Kote terbuat dari kayu Kukung dan Katomo. Setelah itu, tali yang digunakan untuk permainan Kote bisa terbuat dari tali manapun,” ungkap Petrus.

Krispianus Doro, salah seorang siswa asal Desa Bantal yang ikut bermain dalam festival ini mengungkapkan, meskipun perkembangan teknologi semakin banyak permainan namun ia bersama rekan seusianya masih terus memainkan Kote disaat sore hari selepas jam sekolah.

“Biasanya kami bermain Kote setelah pulang sekolah. Tapi, sekarang kami bisa main di tempat ini dengan situasi yang berbeda,” ungkap siswa kelas 6 SDN Waitiu ini. (Redem/ Boy)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya