oleh

Kisah Guru Honorer di Pedalaman Sikka, Rela Tinggal di Gubuk Tanpa Listrik

Maumere, Lintasnusanews.com  –  Mengabdi demi pendidikan generasi bangsa, dua guru honorer SDK Wai Paar Sikka NTT rela terima honor Rp 300.000 dan tinggal di gubuk tanpa listrik. Kedua guru ini mengaku, selama mengajar mereka diberikan tanggungjawab sebagai guru kelas, sehingga harus mengasuh semua mata pelajaran.

Kisah guru honorer Stefania Toa Werang dan Karolina Laki ini diungkapkan keduanya saat ditemui di Desa Persiapan Wai Paar, Sabtu (28/08/2021).

Stefania menuturkan, selama 3 tahun mengabdi di SDK Wai Paar, rumah yang ditempati saat ini dibangun orangtua murid. Meski tinggal di rumah layaknya gubuk, namun panggilan hati untuk mengabdi sehingga dijalaninya.

“Dengan kondisi seperti ini, kami harus menerima apa adanya. Habis mau bagaimana lagi. Sudah gaji kecil, kami juga harus berada dalam kegelapan terus. Kalau menyiapkan pelajaran bagi anak didik, ya kami hanya menggunakan lampu pelita dari minyak tanah.  Minyak tanah juga harus beli di pasar di Kecamatan Talibura. Dari jalan umum kami harus menempuh jalan kaki membawa barang belanjaan sejauh 9 Km melewati jalan yang terjal dan  ekstrim,” jelas Stefania.

Sementara rekannya Karolina mengaku, honor yang diterima sebulan sebesar Rp 300.000. Menurutnya, besaran gaji ini tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup dalam sebulan.

Karolina menuturkan, saat harus kepasar yang terletak di ibukota Kecamatan Talibura harus berhemat. Jika membawa uang Rp 100.000, maka digunakan belanja Rp 50.000 dan uang transportasi ojek Rp 50.000.

Selain Guru Honorer, Guru Kontrak Menuturkan Kisahnya

Sementara kisah miris juga dialami Yesintus Lake, seorang guru kontrak di SDI Klantang yang mengabdi di sekolah itu selama 6 tahun. Lake yang tinggal di Desa Kajo Wain harus berjalan kaki untuk mengajar di SDI Klantang.

Yesintus Lake harus berjalan kaki, karena satu rumah dinas yang dibangun komite sekolah tersebut ditempati oleh dua guru honor komite. Lake mengaku, selama mengabdi di wilayah itu, baru satu anggota DPRD Sikka Wenseslaus Wege yang berkunjung.

“SDI Klantang ini didefenitifkan oleh Bupati Sikka Yos Ansar Rera tahun 2014. Di sini ada dua rumah guru yang dibangun secara swadaya oleh komite sekolah. Namun satu rumah guru belum ditempati karena masih menunggu perbaikan oleh orangtua murid. Sampai hari ini baru satu orang anggota pak Wens yang datang, yang lain belum pernah,” tutur Lake.

Anggota DPRD Sikka Wenseslaus Wege yang hadir dalam kesempatan itu turut prihatin dengan kondisi sekolah dan nasib para guru honorer maupun kontrak. Wens yang meninjau langsung bangunan sekolah berlantai tanah itu butuh perhatian Pemerintah Kabupaten Sikka.

Hal senda juga diakui anggota DPRD Sikka Wenseslaus Wege, bahwa dua sekolah di Wai Paar itu sudah dikunjunginya sebanyak dua kali. Menurutnya kondisi sekolah baik di SDK Wai Paar maupun SDI Kalntang sangat memprihatinkan. Selain bangunan sekolah, juga rumah guru yang tidak beda dengan gubuk para petani di kebun.

“Dua sekolah yang saya kunjungi sungguh memperihatinkan satu sekolah swasta. Juga kondisi bangunannya sangat buruk. Banyak atap yang rusak, rumah guru yang tidak layak. Mestinya ada perhatian pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama dan semua warga  yang peduli  terhadap dua sekolah ini,” harap Wens.

Penulis: Karel Pandu

Editor: Ambros Boli Berani

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya