oleh

Relawan Guru Panti Asuhan Margaretha Maria Terjun ke Politik

Denpasar, Lintasnusanews.com – Setelah tiga tahun mengabdikan diri sebagai guru relawan di Panti Asuhan Sidhi Astu Bali, Margaretha Maria memilih terjun ke dunia politik. Wanita asal Tanah Toraja itu merasa terpanggil untuk menyuarakan aspirasi warga bidang pendidikan.

Wanita kelahiran 17 Oktober 1968 ini, memutuskan jadi guru relawan sejak pandemi Covid19 melanda Bali juga dunia. Retha awalnya melihat kebutuhan guru pendamping, sejak pemerintah menerapkan belajar dari rumah selama masa pandemi.

Mengenal Panti Asuhan Sidhi Astu, awalnya Margaretha Maria tergerak untuk membantu sumbangan dana sukarela sejak tahun 2012 silam. Tak hanya Sidhi Astu, Margaretha Maria juga membantu sejumlah panti asuhan lainnya di Denpasar dan Jakarta.

Namun demikian, Retha memilih mengabdi sebagai guru relawan di Panti Asuhan Sidhi Astu di Jl. Raya Tuka, No.34, Dalung, karena lokasinya lebih dekat dari rumahnya di Perumahan Padang Galeria, Jl. Tangkuban Perahu, Padang Sambian Kelod, Denpasar Barat.

“Saya melihat anak-anak membutuhkan pendidikan yang layak. Tapi belum maksimal tersentuh dari sisi kebijakan pemerintah. Nah, hal ini yang membuat saya terpanggil untuk terjun ke politik. Karena dengan terlibat di dunia perpolitikan, saya bisa menyampaikan aspirasi juga keluhan yang dialami orangtua siswa,” ungkap Retha, saat ditemui di kediamannya, Rabu (08/12/2023).

Margaretha Maria Rela Belajar jadi Guru

Menjadi guru relawan tanpa basic pendidikan guru, tidak mudah. Karena harus mempelajari seluruh tugas anak panti asuhan yang diberikan sekolah, sebelum pendampingan dimulai.

Retha menuturkan, banyak suka duka mengajar siswa kelas 1 SD yang belum bisa membaca dan menulis, membutuhkan kesabaran ekstra. Namun panggilan dan niat mulia membuat Retha belajar banyak hal, demi terpenuhinya kebutuhan pendidikan anak panti asuhan.

“Waktu ke panti asuhan, saya menawarkan diri ke pengelola panti, karena tergerak hati untuk mengajar anak-anak yang banyak waktu dihabiskan di panti. Waktu itu kan semua belajar siswa belajar dari rumah, sementara siswa baru kan harus bisa baca dan tulis. Nah kemudian pengelola panti menyetujui, sejak tahun 2020 itulah saya mulai mengajar,” tuturnya.

Margaretha Maria lahir dari pasangan Johanes Manggalo (alm) dan Arpa Tappe, sebagai anak kedua dari enam bersaudara. Margaretha menempuh pendidikan SD Kartika Denpasar, SMP Anugerah Denpasar, SMA Widya Pura Sesetan.

Setelah tamat SMA, Retha memilih Universitas Warmadewa untuk melanjutkan studi jenjang srata 1, Fakultas Ekonomi jurusan Manajemen. Berbekal pendidikan manajemen, Retha sempat membuka toko tas di kawasan Denpasar Barat selama 5 tahun.

Meskipun basic ilmu ekonomi, namun Retha memilih mengasah kemampuan tarik suara yang dimilikinya. Menurutnya, Bali merupakan destinasi wisata dunia, sehingga profesi penyanyi masih sangat dibutuhkan di Pulau Dewata.

“Setelah tamat kuliah, sempat buka toko tas selama lima tahun. Tapi saya lihat, pontensi kebutuhan penyanyi di Bali. Apalagi Bali terkenal dengan pariwisatanya, sehingga banyak hotel dan restoran yang butuh penyanyi. Itu kan peluang cuan ya, jadi saya coba dan bergabung dengan group musik Asosiasi Pekerja Musik Bali (APMB) sejak tahun 2020,” katanya.

Margaretha Selalu Terlibat Urusan Sosial

Peluang cuan Retha ditempa badai virus Corona awal tahun 2020 lalu. Pandemi Covid19 mengakibatkan pariwisata Bali sepi turis, sehingga berdampak ke pendapatan job menyanyi. Namun bersama group musiknya, menggalang bantuan bagi keluarga pemusik dan penyanyi yang terdampak pandemi Covid19.

“Selama corona kan sepi job. Tapi kami seniman jadi kami mengambil peran membantu keluarga pemusik dan penyanyi yang membuat dapur umum untuk makan sore selama sebulan. Apalagi saat itu memang banyak orang di Bali kehilangan pekerjaan,” kisahnya.

Kisah perjalanan hidup dan pengabdian Margaretha Maria sebagai relawan dimulai sejak kematian putri semata wayang, Clara Renatha Marchella Harlie tahun 2012 silam. Kehilangan putrinya membuat Retha memilih mengabdikan dirinya bagi banyak orang, sebelum akhirnya terjun ke politik bergabung bersama partai besutan Harry Tanoe Sudibyo.

“Saya melihat bahwa kebijakan pemerintah harus berdampak pada masyarakat termasuk pendidikan. Apalagi setelah jadi guru relawan di panti asuhan, saya merasa terpanggil untuk bertarung dan mengabdi sebagai wakil rakyat,” tandasnya.

Retha berharap, dukungan masyarakat pemilih memihak pada calon legislatif yang benar-benar mengerti kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, Retha selalu menyapa rekan komunitas relawan dan pemusik untuk mendukungnya sebagai Caleg Partai Perindo, daerah pemilihan (Dapil) Denpasar Barat II, nomot urut 2.

“Semoga niat tulus mengabdi mendapat dukungan dari warga pemilih di Denbar dua. Tentu usaha daya dan upaya saya akan maksimal, meskipun sebagai relawan tentu akan berhadapan dengan incumbent dari partai lain. Tapi saya yakin bahwa masyarakat pemilih sekarang sudah cerdas, sehingga mereka tau siapa yang tulus dan tidaknya. Kalau saya sih sudah terbiasa mengabdikan diri bagi banyak orang, tanpa pamrih dan intrik,” pungkasnya. (adv/edo)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Berita Lainnya