oleh

Kanwil Kumham NTT Apresiasi DPRD Sikka Lahirkan 3 Ranperda Inisiatif

Maumere, Lintasnusanews.com – Kantor Wilayah Hukum dan Ham (Kanwil Kumham) Propinsi NTT mengapresiasi kinerja DPRD Sikka NTT yang telah menghasilkan tiga ranperda inisiatif.  Apalagi, salah satu ranperda tentang pengobatan tradisional mengakomodir kearifan lokal masyarakat Sikka.

Kakanwil Kumham NTT, Marciana Dominika Jone mengatakan, pengobatan tradisional merupakan warisan leluhur. Oleh karena itu harus dilestarikan dan dilindungi melalui ranperda inisiatif yang telah dibuat DPRD Sikka.

“Kami harapkan, semua obat tradisonal di Kabupaten Sikka bisa langsung didaftarkan di Kemenkumham supaya dilindungi. Sebab itu hak kekayaan intelektual komunal, khususnya ekpresi budaya tradisional. Diharapkan Sikka menjadi yang pertama mendaftar sebagai pengobatan tradisonal,” ungkap Dominika beberapa waktu lalu.

Dominika menguraikan, tiga ranperda itu masing-masing tentang sistim kesehatan daerah, sistim penyelenggaraan pendidikan dan penyelenggaraan menata telekomunikaksi. Menurutnya, DPRD Sikka telah melalui tahapan perncanaan dan penyusunan naskah akademik, sebelum diasesmen dan dibahas bersama Pemkab Sikka.

“Saya patut memberikan apresiasi kepada DPRD Sikka. Karena telah memproses tata cara penyusunan peraturan perundang-undangan melalui perencanaan yang baik. Penyusunan naskah akademik melalui assesment yang dibahas bersama pemerintah,” ujarnya.

Sementara Kadis Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus mengatakan, ranperda pengobatan tradisional sangat bermanfaat. Apalagi dewasa ini banyak negara lain menggunakan herbal atau obat tradisional mengakomodir potensi pengobatan tradisional.

Menurut Herlemus, perkembangan ilmu farmasi belakangan ini merambah ke pengobatan herbal. Dengan demikian, setiap pasien dapat memilih jenis obat yang diinginkannya.

Herlemus mengaku, telah meminta Puskesmas untuk melakukan pendataan obat tradisional di setiap wilayahnya. Hal ini terkait siapa pengobatnya, cara pengobatannya dan jenis obat tradisional yang akan digunakan.

“Beberapa Puskesmas telah masukan data. Namun saya minta agar difilter. Untuk mencegah jangan sampai jenis obat sudah digunakan atau sudah diklaim oleh daerah lain,” katanya.

Herlemus menambahkan, bahan obat tradisonal akan diuji  pada unit pengembangan obat tradisonal di laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Sikka.

“Nanti kita uji toksistasnya. Daya terapinya seperti apa. Jika tahu, kita lanjutkan dengan penelitian lanjutan,” pungkasnya. (rel)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya